Catatan dari balik sejarah Balai Kota Sukabumi, dari Lie Ek Tong, resesi ekonomi, hingga sosok hitam

Knaud kecil menceritakan bahwa hantu selalu mengganggu pekerja yang sedang mengerjakan pembangunan balai kota tersebut.

Hai gen XYZ Sukabumi, kalian sudah tahu belum bagaimana sejarah berdirinya Balai Kota Sukabumi?

Dulu nih, Gengs, balai kota ini disebut dengan istilah gemeentehuis atau kadang juga disebut raadhuis. Tetapi, sebagian para orang tua biasanya menyebutnya hemeente.

Btw, ternyata ada cerita seru dibalik pembangunan gedung pusat pemerintahan Kota Sukabumi ini. Konon nih, Gaess, dalam catatan sejarahnya, terdapat cerita mistis di balik keberadaan bangunan cagar budaya ini. Simak kuy kisah lengkapnya.

[1] Hampir dua puluh tahun Sukabumi tak punya Balaikota

Pada masa awal perubahan status Sukabumi menjadi gemeente pada 1 April 1914, pemerintah kota praja belum memiliki wali kota dan kantor sendiri yang representatif. Ketiadaan anggaran untuk sekretariat kota dan layanan teknis dari pemerintah pusat, membuat penyelenggara pemerintahan lokal harus mencari tumpangan bangunan yang ada di Kota Sukabumi.

Pada saat itu Dewan Kota menumpang di salah satu ruang di Afdelingsbank yang lokasinya sekarang di sekitar kantor Bank Mandiri, dan melakukan rapat pertamanya pada 29 April 1914. Penggunaan ruangan ini berlangsung selama sekira empat tahun hingga akhirnya Dewan Kota berkantor di sebuah gedung bekas sekolah di sebelah timur alun-alun (Mapolres Sukabumi Kota sekarang), sambil menunggu bangunan sendiri.

Ketiadaan balai kota ini hampir berakibat dicabutnya status Gemeente Soekaboemi pada tahun 1924, walaupun usulan tersebut pada akhirnya dibatalkan setelah adanya penentangan. Hikmah adanya usulan pencabutan status tersebut adalah kemudian diseleksi calon Wali Kota Sukabumi pertama pada Juli 1925, dan terpilih Burgemeester pertama G.F Rambonnet.

Semenjak itu, pemerintahan lokal ini mulai memikirkan pentingnya Dewan Kota memiliki kantor sendiri. Lebih lengkapnya baca Sempat akan dibatalkan, Gemeente Soekaboemi berawal dari ketidakpuasan orang Eropa

[2] Menyewa bangunan tua milik pengusaha Tionghoa

Oktober 1925, pemerintah menyewa sebuah bangunan besar di Tjikoleweg No. 23 milik seorang pengusaha Tionghoa bernama Lie Ek Tong untuk kegiatan operasional staf gemeente sementara. Ek Tong adalah pemilik ruko di Grote Postweg (sekarang Jl. Jenderal A. Yani) yang di kemudian hari menjadi Toko Bogor, Toko Aloha, Toko Meubel Bandung, dan tiga kavling di sebelahnya.

Karena cukup dikenal di wilayah ini, namanya sempat diabadikan sebagai nama gang, yaitu Gang Ek Tong (sekarang Jalan PGRI). Bangunan tersebut berkonstruksi bilik dengan plesteran (gepleisterd billiken gebouw), yang kemudian digunakan oleh Kotapraja Sukabumi sebagai Balai Kota (door de Gemeente Soekaboemi Gebruikt als Gemeentehuis).

Gemeentehuis ini digunakan ketika ada pertemuan dewan kota, bahkan kadang digunakan untuk tempat peribadatan Jemaat Gereja Reformasi, mengingat jemaat gereja kesulitan melakukan ibadah dan harus menumpang di sekolah taman kanak-kanak di Selabatu. Rambonnet akhirnya memberi solusi dengan menjadikan kantor sementara gemeente tersebut sebagai gereja.

Sementara itu, selama status sewa, burgemeester yang merangkap sekretaris kota tidak berkantor di gemeentehuis, tetapi di salah satu rumah di jalan yang sama, yaitu Cikoleweg No. 15.

BACA JUGA:

Kisah perdebatan Nyai Roro Kidul yang ingin hidup sampai kiamat, netizen Sukabumi tahu?

Catatan dari diskusi Perlukah Perda Cagar Budaya di Kota Sukabumi, sebuah otokritik

Transformasi lambang Kota Sukabumi dari era Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka

[3] Pembelian bangunan dan rencana pembangunan gedung baru

Pemerintah kota praja sebenarnya membutuhkan bangunan milik Lie Ek Tong tersebut karena lokasinya yang strategis sehingga bisa meninjau keadaan kota dari kejauhan. Namun, karena Lie Ek Tong tidak menjualnya, kemudian dewan kota terus menyewanya selama tujuh tahun.

Sekitar 1932 terjadi resesi ekonomi yang mengakibatkan Lie Ek Tong mengalami kebangkrutan. Karena kebutuhan yang mendesak akhirnya ia harus rela melelang bangunan tersebut dan menjualnya kepada pemerintah senilai 12.600 Gulden (NLG).

Karena terkendala dana dan persiapan, sementara gedung baru belum bisa dibangun. Hingga pada 29 November 1926, Eugene Knaud diangkat oleh Dewan Kota Sukabumi sebagai Direktur Pekerjaan Umum. Hal ini mempercepat proses perencanaan mengingat Knaud adalah arsitek Soerabajasche en Oudbow yang track record-nya cukup mengagumkan.

Hasil karya Knaud di antaranya Pembangunan Konstruksi Pelabuhan Surabaya, bangunan ANIEM dan proyek terowongan Merawa, kemudian jembatan, saluran air, hingga rel kereta api. Sebelumnya Knaud juga sempat merancang Holland Chinese School/HCS Gemeente (sekarang SMA Negeri 4 Kota Sukabumi) yang selesai pada 17 Januari 1931. Knaud kemudian melanjutkan merancang balai kota dengan mengusung konsep art deco dengan tetap memberi sentuhan khas Sunda yaitu julang ngapak. Ciri ini juga masih terlihat pada bangunan terbuka SMAN 4.

[4] Pembangunan balai kota diganggu hantu

Pembangunan gedung balai kota diawali dengan peletakan batu pertama pada Senin, 12 September 1933, pukul 11.30 WIB dalam suasana resesi ekonomi (malaise). Acara berlangsung sederhana, tidak ada undangan resmi, tetapi anggota dewan kota dan kalangan pers diminta untuk hadir.

Wali Kota Rambonnet memberikan pidato dan ucapan terimakasih kepada Knaud atas desainnya yang mempercepat proses pembangunan gedung balai kota, kemudian dilanjut sepatah kata dari Van Dyk dari kalangan pers. Setelah itu, Rambonnet-pun memasang batu pertama di atas adukan semen.

Selanjutnya Soendoro dan Mr Prins mewakili Dewan Kota memberi ucapan selamat saat beramah-tamah di gedung lama.

Pembangunan gedung ini sebenarnya diefesienkan dari budget semula 120.000 NLG, akibat kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Uniknya, proses pembangunan balai kota mengalami beberapa kejadian lucu yaitu adanya gangguan hantu, hal ini dikisahkan oleh anaknya Eugene Knaud, J.M Knaud.

Knaud kecil menceritakan bahwa hantu selalu mengganggu pekerja yang sedang mengerjakan pembangunan balai kota tersebut. Bahkan, seorang pembantu bernama pak Iks, mengaku melihat langsung hantu tersebut sedang berdiri di atas rangka atap. Sosoknya hitam dan besar, sehingga dia ketakutan dan berlari membangunkan petugas jaga. Petugas jaga pun kemudian menghubungi polisi terdekat, kemudian melakukan pengintaian di lokasi pembangunan.

Singkat cerita, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya digelar selamatan besar dipimpin seorang pemuka agama Islam yang juga menghitung hari tepat untuk melanjutkan proses pembangunan. Selamatan disertai sesajen kepala sapi, dupa, serta bunga yang diletakkan di depan konstruksi gedung.

Semenjak itu sang hantu tidak pernah nongol lagi. Namun, konon hingga kini sang hantu masih mengisi lorong-lorong di dalam gedung balai kota. Iiiyy, serem ya, Gaess.

[5] Selesainya pembangunan dan pembukaan gedung balai kota

Proses pembangunan balai kota berlangsung hingga beberapa bulan lamanya, para pekerja tanpa lelah mempercepat proses pembangunan. Knaud mengimplementasikan karyanya dengan dikoordinasi oleh mandor utama Atmosoejono dan mandor Djudin sebagai pembantu setia Direktur Teknik Pekerjaan Umum ini. Dengan sumberdaya dan dana terbatas karena resesi ekonomi, akhirnya pembangunan balai kota tersebut selesai dilakukan.

Untuk mempercantiknya, diorderlah perabotan senilai 1.000 NLG yang dipasok perusahaan van de Pol di Batavia. Kemudian Stokvis juga menghadirkan lampu mahkota nan indah, juga beberapa perusahaan berkontribusi seperti Alphen, Ruhaak, Scmieper, Deutekom & Waal, Lindeteves, hingga pabrik ubin.

Tak hanya itu, perusahaan Gebeo (PLN sekarang) turut menyumbangkan jam listrik, ditambah lambang Gemeente Soekaboemi dengan diapit dua singa dan mahkota emas bertatahkan batu mulia pada bagian atasnya yang dibuat dan dihadiahkan oleh Braat NV. Lambang ini diletakkan di atas pintu masuk balai kota.

Usai menyemangati para Staff, akhirnya Wali Kota Rambonnet meresmikan gedung Balaikota tersebut pada 22 Februari 1934. Setelah upacara peresmian, para pejabat Kota Sukabumi melakukan sesi foto bersama di antaranya MR. dan Mrs G. F. Rambonnet, Dijkema, Soeradiradja, Tijdeman, Movig, Van Dijk, Bitterberg, Mr. de Boer dan, Ir. Jens, Raden Ayu, Residen dan istrinya, dan Bupati Sukabumi.

Ada tiga karangan bunga sebagai usapan selamat atas digelarnya acara peresmian tersebut, salah satunya dari Residen Buitenzorg sebagai ucapan selamat kepada Gemeente Soekaboemi.

“Besar harapan bahwa rumah komunal yang baru ini akan menjadi simbol untuk pekerjaan dan upaya Gemeente Soekaboemi yang baru dan ide-ide luas,” ucap Mr. Jong dari Dewan Kota.

“Selamat dengan menyatakan sebuah rumah tinggal gaya lama, kini telah menjadi sepotong perhiasan untuk Gemeente Soekaboemi yang menyemangati para staf,” kata Bupati Sukabumi R. A. A. Soerianatabrata.

Nah, Gengs, seperti kita ketahui bersama, bangunan balai kota ini hingga sekarang masih digunakan oleh Wali kota-wali kota Sukabumi berikutnya. Bahkan, saat ini bangunannya terlihat lebih cantik karena sudah direnovasi. Sayangnya nih, Gengs, ada beberapa bagian gedung yang sudah hilang seperti jam listrik yang terpajang di depan bangunan. Kemudian beberapa bagian ubin yang sudah tidak asli. Namun begitu, keindahannya masih tetap memikat para penikmat bangunan bersejarah.

Mudah-mudahan saja bangunan ini tetap terawat dengan baik ya, Gaess.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

One thought on “Catatan dari balik sejarah Balai Kota Sukabumi, dari Lie Ek Tong, resesi ekonomi, hingga sosok hitam

  • Avatar
    30 March 2019 at 09:41
    Permalink

    Artikel yang sangat keren…membacanya seolah kita ikut langsung ada disana.
    Gedung cantik ini ternyata punya sejarah yang panjang berliku, penuh kesabaran pemerintah wkt itu untuk mendapatkannya tidak langsung memaksakan kehendak. Makanya ketika dibangun banyak keistimewaan ( meskipun sedang krismon,krismon membawa berkah,hehehe…ironi yah…) Dari arsiteknya yang kampiun,dari perpaduan arsitekturnya yg chantik art deco+sundanes cultur,sampai pembangunannya yg hanya satu tahun,setelah menunggu sekitar 20 tahunan berdirilah bangun flamboyan nan megah yg menjadi ikon kota Sukabumi. Dengan bonus hiasan dan ornamen lainnya yang sayang sudah raib entah kemana sekarang…
    Hebat kang Irman,artikel yang sangat bermanfaat. Salut!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *