Akhir tragis “Si Rambo”, Wali Kota Sukabumi pertama

Sebagai orang Belanda, keluarga Rambonnet harus mendaftar kepada polisi Jepang dengan membawa akta kelahiran dan membayar 20 NLG untuk memperoleh kartu identitas.

Ketika status Sukabumi ditingkatkan menjadi gemeente pada 1914, dari sebelumnya afdeling, saat itu belum langsung memiliki pejabat wali kota definitif. Wali kota yang saat itu disebut dengan istilah burgemeester, baru ditetapkan 12 tahun kemudian, atau tepatnya pada 1926.

Wali Kota Sukabumi pertama yang diangkat adalah George Francois Rambonnet atau biasa disebut Si Rambo. Ia seorang keturunan Belanda kelahiran Jember, Jawa Timur tahun 1888, dari pasangan Francois Rambonnet dan Christina Louise Rambonnet.

Jadi, burgelijkbestuur pengangkatan Gemeente Sukabumi tidak berjalan selama 12 tahun karena belum ada pejabatnya sehingga sementara waktu diwakilkan kepada Asisten Residen Buiitenzorg (Bogor) untuk Sukabumi.

Informasi di internet maupun arsip pemerintah Kota Sukabumi mengenai Si Rambo ini sangat minim, Gaess. Penulis mencoba melengkapinya dari sisi lain yang belum pernah diulas.

Bagaimana sih kisah Si Rambo ini saat memimpin Kota Sukabumi. Mari kita simak lima catatannya, Gengs.

[1] Jadi wali kota hasil seleksi dan menghadapi persoalan kekumuhan

Sejak era reformasi, pejabat wali kota merupakan hasil pemilihan langsung ya, Gengs. Tapi Si Rambo ini menjadi wali kota hasil seleksi yang prosesnya dilakukan pada Juli 1925. Tercatat sebanyak 31 orang melamar menjadi wali kota, namun terpilih tiga orang. Satu dari tiga calon wali kota ini akhirnya terpilih yaitu G.F Rambonnet.

Berbeda dengan sekarang, zaman dulu wali kota tidak memiliki wakil, Gengs. Malah pejabat wali kota diwajibkan merangkap jabatan sebagai sekretaris kota.

Awal 1926, Rambonnet sudah diberi bocoran tentang rencana pengangkatannya menjadi Burgemester Sukabumi. Namun, saat meninjau Sukabumi, yang dia rasakan adalah menata kota di semua bagian. Ia harus melakukan pembangunan dari nol karena kondisi kota yang tidak tertata. Sampai terbersit di benaknya jika jabatan yang diembannya tersebut merupakan bembuangan karena sebelumnya ia dipromosikan menjadi Residen Priangan Barat.

Zaman dulu wali kota tidak memiliki wakil seperti saat ini, Gengs, malah diwajibkan merangkap jabatan sebagai sekretaris kota.

[2] Banyak kendala terutama persoalan dana dari pusat

Maslah kota yang kumuh ternyata bukan satu-satunya masalah yang harus ditangani Rambonnet, tetapi ada persoalan lain yang tak kalah vital yakni anggaran senilai 17.700 Gulden {NLG), dana untuk staf sekretariat sebesar 6.830 NLG, dan staf teknis sebesar 1.665 NLG sudah tidak ada alias ditarik. Hal ini sebagai proses dari berdirinya sebuah gemeente yang berarti otonomi terbatas ke stad gemeente alias otonomi penuh.

Melalui StadsGemeente Ordonnantie yang dimuat dalam Staatsblad No. 365, status gemeente (otonomi terbatas), Sukabumi ditingkatkan menjadi StadsGemeente (otonomi penuh). Salah satu perbedaannya adalah StadsGemeente diberi wewenang penuh mengelola kota (otonomi penuh), dan diberi hak membuat berbagai peraturan atau perangkat hukum untuk mengatur kota, saat ini lazim disebut dengan peraturan daerah dan sejenisnya.

Saat Rambonnet datang ke Sukabumi, ia belum diberi rumah dinas karena bangunan untuk rumah dinasnya masih diisi oleh Mr. Stede, seorang veteran yang cukup dikenal karena sering berkeliling Kota Sukabumi dengan kereta yang ditarik dua kuda bertudung topi. Rambonnet untuk sementara ditampung di salah satu kamar di Hotel Pensiun.

Tugas rangkap sebagai wali kota sekaligus sekretaris kota ia jalani dengan penuh semangat dan dedikasi tinggi di sebuah kantor berukuran kecil di Tjikoleweg no.15 (sekarang nomor 17).

Ke Sukabumi, iia membawa serta keluarganya, sang istri Anita-Daponte dan kedua anaknya Nini Hannaford-Rambonnet dan Robert Carel Rambonnet atau biasa dipanggil Bob. Dari tempat tinggalnya di Wilhelminaweg (sekitar seberang SMA Mardi Yuana) ke kantornya, cukup dengan berjalan kaki.

BACA JUGA:

Sempat akan dibatalkan, Gemeente Soekaboemi berawal dari ketidakpuasan orang Eropa

Transformasi lambang Kota Sukabumi dari era Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka

[3] Gebrakan kolaborasi Rambonnet-Knaud

Melihat kondisi kota yang masih amburadul akhirnya pada Mei 1926 Rambonnet mengirimkan telegram kepada seorang arsitek, Eugene Knaud untuk membantunya. Tulisan lengkapnya baca Catatan dari balik sejarah Balai Kota Sukabumi, dari Lie Ek Tong, resesi ekonomi, hingga sosok hitam.

Dengan bantuan Knaud, Rambonnet mengambil beberapa kebijakan tidak populer, sehingga banyak menerima penentangan, seperti menghentikan pekerjaan yang melenceng dari perencanaan, mengadukan orang-orang yang tidak produktif atau bekerja asal-asalan.

Penentangan lebih keras terjadi saat pengaspalan jalan-jalan kota yang berlangsung cukup lama, jalan-jalan tanah kemudian diperkeras dan diaspal sehingga menimbulkan banyak debu dan polusi. Penentangan juga terjadi di daerah-daerah kumuh yang dibongkar karena banyak bibit penyakit.

Rambonnet dan Knaud tidak bisa melakukan perencanaan kota dari awal dan membagi sesuai lingkungan tata kota, tetapi melanjutkan apa yang sudah ada, mengingat mereka hanya melanjutkan proses pembangunan masa afdeling dan gemeente awal.

Beberapa gedung yang dibangun pada masanya seperti Ruko Capitol yang diresmikan pada Juli 1930, oleh GF. Rambonnett dengan pengguntingan pita oleh Nini Rambonnet. Kemudian Kantor Pos tahun 1928, Holland Chinese School (HCS) tahun 1930, dan terakhir gedung wali kota yang selesai dibangun tahun 1933. Sementara itu, bangunan komersil yang dibangun di antaranya Toko Tan (1930), Restoran Centraal (1932), bioskop, dan pertokoan lainnya. Termasuk layanan penyediaan air ledeng di Sukabumi yang bersumber dari mata air di Palasari Selabintana diresmikan pada 19 Mei 1927. Sedangkan energi listrik dialirkan dari Ubrug untuk menggantikan lampu gas.

Beberapa kegiatan rutin warga juga diambil alih gemeente seperti jagal hewan disentralisir di rumah jagal (slachthuis) dengan tujuan agar kebersihan tempat pemotongan hewan terjaga dan dagingnya bisa dikontrol dengan baik. Selain itu pasar-pasar juga diambil alih dan membentuk passer gemeente dengan desain lebih modern menggunakan rangka plat yang diproduksi NV Braat.

4. Kasus maladministrasi dan keuangan

Rambonnet  menduduki jabatan Burgemeester Sukabumi sampai awal 1934. Pasca peresmian Gedung Gemeente rupanya Rambonnet tidak sempat mengisi gedung baru tersebut karena dipindahkan ke Buitenzorg (Bogor) dan menjabat sebagai wali kota.

Saat mengisi jabatan baru sebagai Wali Kota Bogor, Rambonnet tidak bisa tenang karena diserang pemberitaan media Bataviaasch Nieuwsblaad yang membuka kebobrokan administrasinya saat menjabat Wali Kota Sukabumi. Dia dituduh melakukan maladministrasi dan penyimpangan keuangan, akibatnya, Kantor Kejaksaan Umum dan Kantor Desentralisasi terlibat dalam penyelidikan. Laporan penyelidikan kedua lembaga tersebut hasilnya sangat buruk, sehingga membuatnya kian tersudutkan.

Manajemen yang dilakukan Rambonnet diduga amburadul alias salah urus sehingga banyak arsip yang hilang atau tidak tercatat. Pada akhir 1933, dalam konsultasi dengan Komite Dewan, mulailah dibuat pengenalan arsip dengan sistem kartu. Arsip baru ini, baru dijalankan oleh Rambonnet mulai 1 Januari 1934, sementara arsip-arsip sebelumnya sangat kacau. Selain itu, Rambonnet juga didakwa melakukan penyalahgunaan uang gaji dan tunjangan cuti.

Nahasnya kemudian, pemerintah pusat membatalkan keputusan Dewan Kota Sukabumi pada 16 Maret 1932, di mana Rambonnet menerima sejumlah uang sebagai tunjangan yang dianggap pembayaran kekurangan atas tugas rangkapnya sebagai wali kota dan sekretaris kota. Hal ini berakibat besar karena Rambonnet harus mengembalikan sejumlah uang yang dia nikmati dalam masa hampir delapan tahun, ditambah saat dia mengambil haknya ketika cuti ke luar negeri.

Kasus ini sebenarnya sudah muncul menjelang akhir masa jabatannya, sekitar tahun 1929, sehingga Rambonnet mencoba melakukan pembenahan, namun terlambat. Hal ini ironis dengan ungkapan para pejabat ketika acara perpisahan Rambonnet di Sukabumi yang dianggap berhasil. Akibat maladministrasi ini, wali kota pengganti, Van Unen, merasa kesulitan karena tidak ada data dan arsip yang bisa dia tindaklanjuti.

Van Unen sebenarnya mencoba untuk membelanya dalam proses penyidikan dengan menyatakan bahwa Rambonnet tidak melakukan kesalahan. Namun, isu sudah terlanjur menyebar dan Rambonnet sudah menghadapi masalah serius sehingga dia harus mengajukan pailit kepada pemerintah Hindia Belanda.

5. Akhir kisah Si Rambo yang tragis

Keluarga Rambonnet kian terpuruk saat pecah Perang Pasifik. Anak perempuannya, Nini, bergabung dengan Palang Merah, sedangkan istrinya Anita Daponte menjadi penyiar Radio NIROM, dan Bob yang masih berusia 18 tahun, bergabung dengan Angkatan Laut Hindia Belanda dan ditugaskan di Cilacap.

Ketika Jepang masuk pada Maret 1942, Nini yang bertugas di Bandung kembali ke Batavia dan menemui sang ayah telah diberhentikan dari pekerjaan eksekutifnya dengan pesangon tiga bulan gaji. Tentara Jepang menyita mobil Rambonnet, sementara Anita sang istri, kehilangan pekerjaan sebagai penyiar, walaupun masih bekerja sebagai penerjemah bahasa Belanda ke bahasa Inggris dan Melayu.

Sebagai orang Belanda, keluarga Rambonnet harus mendaftar kepada polisi Jepang dengan membawa akta kelahiran dan membayar 20 NLG untuk memperoleh kartu identitas. Namun kemudian Rambonnet ditangkap pasukan Jepang saat sedang mandi dan digelandang bersama orang-orang Belanda lainnya ke kantor polisi setempat. Rambonnet kemudian dikirim ke Adek, semacam kamp konsentrasi sementara.

Awalnya Rambonnet masih bisa dikunjungi untuk sekadar mengirim makanan, kemudian hal ini dihentikan setelah ia dan orang keturunan Belanda lainnya dikirim ke kamp konsentrasi di sekitar Bandung tanpa bisa berkomunikasi dengan keluarga. Tak lama kemudian Anita juga diminta datang ke kantor polisi dan tak pernah kembali. Anita dituduh menjadi mata-mata sehingga disiksa dengan cara ditusuk paku, dipukul, dan dibakar rambutnya sehingga mengalami trauma.

Ketika Jepang menyerah, keluarganya mencari Rambonnet ke Bandung, namun informasi yang didapat dari penghuni kamp bahwa Rambonnet telah meninggal dunia pada Februari 1945 akibat disentri dan kekurangan gizi di sebuah kamp konsentrasi.

Kasihan juga ya, Gaess, wali kota pertama kita. By the way, inilah sejarah yang harus kita ketahui. Meskipun sempat carut marut akibat peperanagan, hikmahnya bangsa kita bisa merdeka hingga sekarang.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *