Hujan deras dera Sukabumi, waspada bencana tanah bergerak, 5 info warganet wajib waspada

Tercatat ada 40 rumah di Kecamatan Nyalindung rusak dan 115 rumah lainnya terancam bencana tanah bergerak yang dipicu hujan deras.

Seperti sama-sama kita ketahui nih ya Gaess, semestinya akhir bulan April ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Memang Sukabumi belakangan cuacanya makin terasa gerah. Namun demikian, hujan lebat malah semakin kerap terjadi. Bahkan, hujan deras yang belakangan terjadi telah menimbulkan bencana tanah bergerak di beberapa wilayah Sukabumi.

Tercatat ada 40 rumah di Kecamatan Nyalindung rusak dan 115 rumah lainnya terancam bencana yang sama. Totalnya, 155 rumah rusak dan terancam bencana tanah bergerak. Berikut lima info yang dirangkum Sukabumixyz.com dari berbagai sumber.

[1] Total 155 rumah rusak dan terancam bencana tanah bergerak 

Seperti diberitakan sebelumnya oleh banyak media online, sekitar 40 rumah rusak terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Sementara itu, 115 rumah lainnya dalam kondisi terancam. Artinya, secara keseluruhan 155 rumah rusak dan terancam bencana tanah bergerak.

Tak hanya itu, bencana tanah bergerak juga mengakibatkan ruas Jalan Sukabumi-Sagaranten di beberapa titik anjlok dan mengancam 26 hektar lahan persawahan. Gerakan tanah ini mulai dikeluhkan masyarakat sejak sepekan ini setelah hujan deras mengguyur sehari semalam.

[2] Hujan deras pemicu tanah bergerak

Penyebab dari bencana tanah bergerak di Sukabumi disebabkan oleh curah hujan yang tinggi beberapa minggu belakangan. Oleh karena itu, Kepala Seksi Pencegahan BPBD Kabupaten Sukabumi Nanang Sudrajat mengatakan pihaknya sudah melaksanakan langkah-langkah mitigasi bencana kepada masyarakat, terutama terkait bencana tanah bergerak di Nyalindung.

Pihak BPBD juga telah mengimbau masyarakat untuk lebih waspada ketika hujan mengguyur. “Masyarakat sudah diimbau untuk lebih waspada dan siap siaga bila hujan mengguyur deras. Masyarakat diimbau untuk mencari tempat berlindung yang aman,” ujar Nanang seperti dikutip dari Kompas., Senin (22 April).

BACA JUGA:

Januari-Februari 2019 Sukabumi dilanda ratusan bencana, 5 info gen XYZ mesti tahu

Ngeri Gengs, 2018 Sukabumi didera ratusan bencana hidrometeorologi, ini 5 faktanya

Sukabumi darurat bencana sampai Mei 2019, ini 5 info gen XYZ mesti aware

[3] Kajian PVMBG soal tanah bergerak di Sukabumi

BPBD seperti yang diungkapkan Nanang juga menegaskan pihaknya akan berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung untuk mengambil langkah lanjutan terkait bencana tanah bergerak.

Hasil dari kajian PVMBG berupa rekomendasi akan dijadikan sebagai salah satu dasar penanganan lanjutan. “Untuk penanganan gerakan tanah di Nyalindung ini kami akan berkoordinasi dan mengajukan pelaksanaan kajian ke PVMBG,” kata Nanang.

[4] Tujuh fasilitas umum juga alami kerusakan

Dari data lainnya, Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi menyebutkan, pergerakan tanah terjadi di tiga Kampung Gunungbatu terdiri atas RT 01, 02, dan 03 di RW 09 Kedusunan Liunggunung, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung.

Selain rumah pribadi, dinyatakan bahwa sekitar tujuh fasilitas umum juga mengalami kerusakan.”Pergerakan tanah ini berdampak kerusakan pada sebanyak 24 rumah dari total kurang lebih 115 rumah dan sebanyak tujuh fasilitas umum,” ujar Koordinator Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna seperti disitir dari brbagai media online, Senin (22 April).

Selain itu, pergerakan tanah tersebut juga berdampak pada lahan persawahan warga yang lokasinya berada di samping permukiman warga. Lebar retakan tanah bervariasi mulai dari lebar 20 sampai 50 centimeter.

[5] Warga alami kecemasan

Kondisi tersebut, lanjut Daeng, menyebabkan terjadi kecemasan warga sekitar mengingat pergerakan tanah terus mengalami perubahan fisik setiap harinya. ‘’Upaya sementara warga dan aparat desa melakukan pembelokan saluran air yang melintas di daerah retakan,’’ kata Daeng. Selanjutnya, melihat kondisi tersebut dipandang perlu adanya kajian teknis dari pihak terkait dalam hal ini Badan Geologi.

Pihak BPBD dan pemerintahan dari mulai tingkat desa sampai saat ini sudah menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk selalu waspada.

[dari berbagai sumber]

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *