Kenali kuy cara kerja alat deteksi longsor karya guru honorer di Cicurug Sukabumi


Egi GP

Writed by: Egi GP
Editor by: Feryawi
16 Mei 2019 | 21:46 WIB


Sukabumi yang sama-sama kita cintai ini, Gaess, bukan rahasia lagi kerap didera jenis bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi di antaranya dipicu oleh hujan super deras, angin kencang, dan gelombang tinggi untuk di laut. Dampak lanjutannya adalah munculnya berbagai bencana tanah longsor, banjir, tsunami, tanah bergerak, dan lainnya.

Nah, terinspirasi oleh kerap terjadinya bencana hidrometeorologi di Sukabumi, terutama longsor, seorang inventor lokal asal Cicurug, Iwan Kurniawan menciptakan sebuah alat yang ia sebut ‘detektor longsor.’

Uniknya, Iwan yang seorang guru honorer di sebuah SMK swasta di Cicurug membuat detektor longsor ini dari bahan-bahan yang mudah didapat dan tidak mahal. Selain itu, cara kerja alat yang diciptakan pria kelahiran Bogor, 21 April 1975 pun tidaklah rumit, Gengs. Alatnya cukup ditaruh di bawah tebing, lalu ketika terjadi longsoran akan mengeluarkan suara sirene.

Rupanya, Iwan yang merupakan warga Kampung Legokpicung RT 03/05, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, ini memang seorang inventor. Di waktu senggangnya sepulang mengajar, bapak dua anak ini menciptakan berbagai alat. Selain detektor longsor, Iwan juga menciptakan alat pengering padi yang sekaligus bisa digunakan untuk mengeringkan ikan.

Jika pertanyaannya, apakah Sukabumi punya SDM yang pandai membuat invensi alias inventor? Maka, Iwan-lah salah satunya. Simak kuy wawancara eksklusif sukabumiXYZ.com dengan Kang Iwan berikut.

Apa nama alat yang Kang Iwan ciptakan ini, dan
Bisa diceritakan bagaimana cara kerjanya?

Nama alatnya sederhana saja, detektor longsor. Kalau untuk cara kerjanya, sederhananya sensor mambaca setiap ada guguran material alam, seperti batu, pasir, dan tanah yang jatuh dari tebing dan berpotensi longsor. Nah, daya dinamik yang diterima oleh radar itulah yang kemudian dikonversi menjadi energi suara oleh prosesor.

Jadi untuk lokasi yang di sekitarnya ada populasi manusia bisa mendapat peringatan terlebuh dahulu jika ada potensi terjadi longsor.

Cara kerja alat deteksi longsor karya Iwan Kurniawan.

Apa saja sih material yang dibutuhkan untuk membuat alat pendeteksi longsor ini?

Bahan yang digunakan sederhana aja sih, bahkan cukup dikenal semua orang karena banyak digunakan masyarakat. Jadi siapapun sebenarnya bisa membuat alat pendeteksi longsor ini.

Peralatan seperti rangkaian komponen elektronika, besi pipa, kabel DC, baterei, dan pelat galpanis. Semua mudah didapat dan relatif dikenal masyarakat karena banyak digunakan untuk kebutuhan lain.

BACA JUGA:

5 tanya jawab basa Sunda jeung tuna netra Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi

Owner Bakso Mewek Sukabumi: Dari gagal kuliah, hingga jadi pemurung beruntung

Jualan seblak, si cantik asal Nagrak Sukabumi ini omset usahanya Rp3 juta per hari

Berapa sih biaya yang dibutuhkan untuk membuat alat ini?

Biaya yang dibutuhkan untuk membuat alat ini sekitar sepuluh juta Rupiah, untuk satu set. Itu sudah termasuk radar, sound processor dan tiang pemancar suara setinggi enam meter, dengan kekuatan pancaran suara hingga radius satu kilometer.

Apa yang menginspirasi Kang Iwan sehingga membuat alat ini?

Inspirasi dari kontur alam yang terdiri atas bukit dan lembah dan sering terjadi bencana longsor yang sering memakan korban jiwa di Sukabumi.

Apa harapan atau target ke depan terkait alat pendeteksi longsor karya Kang Iwan ini?

Harapan saya sih gak muluk-muluk sebenarnya. Intinya saya kan memang hobi membuat-buat barang (red: invensi). Pertama, untuk saat ini saya sebatas menyalurkan hobi. Tapi tentu saya berharap karya saya ini bisa memberi manfaat bagi banyak orang, terutama warga Sukabumi yang potesial terancam bencana alam seperti longsor. Terlebih di musim penghujan seperti sekarang.

Kedua, khusus untuk alat detektor longsor ini, barangkali Pemerintah Kabupaten Sukabumi mau memanfaatkan alat sensor longsor ini untuk dipasang di setiap daerah rawan longsor di wilayah Sukabumi. Alatnya sederhana dan harganya juga murah, apalagi jika dibandingkan dengan banyaknya nyawa dan harta benda yang bisa diselamatkan berkat alat ini.

***

Wah, sungguh luar biasa kreatif dan penuh kepedulian ya, Gaess. Semoga saja bisa menginspirasi munculnya inventor-inventor lainnya di Sukabumi sekaligus menjadi solusi bagi penanganan bencana longsor yang masih sering terjadi di berbagai daerah.

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *