#FixzySukabumi: Bajingan Bertato Ular (Chapter 21): Sekutu baru, Don Marquez

*The previous chapter: #FixzySukabumi: Bajingan Bertato Ular (Chapter 19): Bersekutu dengan Profesor Sukichi

————————————————————————

Grace, wanita pembunuh bayaran paling ditakuti di New York mencari lelaki bertato ular yang telah membunuh adik dan ibunya. Dunia hitam New York dibuatnya kalang kabut, tak satu pun bajingan di kota berjuluk Big Apple itu lepas dari angkara murka bernama Grace.

————————————————————————

“Dasar tidak becus! Bagaimana kalian menjaga kakekku? Bagaimana kakek bisa dibunuh disaat ratusan bodyguard berada di dekatnya! Percuma aku dan ayahku membayar mahal kalian!” Rodrigo terlihat marah, tangannya mengepal dan matanya merah. Para bodyguard itu tertunduk. Namun salah seorang bodyguard berambut kriting terlihat maju dengan wajah terangkat.

“Maaf, Bos. Saya rasa, saya tahu siapa yang membunuh bos besar,” ucapnya. Teman-temannya langsung menatapnya.

“Kau tahu? Lalu, kenapa kau diam saja!” bentak Rodrigo seraya menggebrak meja.

“Maaf, tapi saya rasa semua orang tidak akan menyangkanya,” matanya menatap Rodrigo serius.

“Kenapa?” Rodrigo menatap bodyguard itu tajam.

“Karena kami semua termasuk Anda, mengenalnya dengan baik.” Kata-kata Bodyguard itu membuat alis Rodrigo mengerut.

“Siapa yang kau maksud?” Rodrigo bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri bodyguard keriting itu. Wajah mereka saling berhadapan.

“Pevita,” jawabannya membuat Rodrigo tertawa.

“Dasar bodoh! Kau pikir aku akan percaya begitu saja ucapanmu? Dia itu wanita lemah! Dia sudah bersama kakek selama sepuluh tahun, dan kau bilang dia yang membunuh kakek?” Rodrigo mendengus kesal.

“Hanya Pevita yang masuk ke dalam ruangan Big Bos setelah Anda keluar. Tidak ada yang masuk lagi selain Anda yang yang menemukan Big Bos sudah tidak bernyawa.” Wajah bodyguard itu terlihat serius. Tidak ada raut gugup ataupun raut ketakutan dalam wajahnya. Rodrigo berpikir sejenak. Apa yang dikatakan bodyguard itu masuk akal. Ia membalikkan badannya dan berjalan menuju jendela yang setengah terbuka.

“Apa yang lain melihat dia datang?” tanya Rodrigo. Semua serentak mengiyakan. Rodrigo langsung memejamkan matanya dan menghela napas panjang.

“Dimana dia sekarang?” Rodrigo menatap para bodyguardnya dengan dingin. Si Bodyguard rambut keriting menjawab, “Sudah pergi. Setelah saya mendengar Big Bos terbunuh, saya langsung mengecek ruangannya. Dan wanita itu tidak ada. Bahkan di dalam kamarnya, semua pakaian dan perhiasan, juga sudah tidak ada.”

Rodrigo mengerang keras. Ia membanting apapun yang ada di dekatnya. Para bodyguard itu terdiam. Tak lama, pintu terbuka. Terlihat Donny Marquez, ayahnya datang dengan wajah pucat. Rodrigo menghampiri dan memeluknya.

“Ayah, kau sudah datang.” Rodrigo melepaskan pelukannya. Ia menggenggam tangan ayahnya dengan erat.

“Apa kau sudah menemukan pelakunya” tanya Donny.

“Iya. Pelakunya bukan orang luar,” ucap Rodrigo sedikit gugup.

“Siapa?” Donny terlihat penasaran. Ekspresi wajahnya yang menyiratkan amarah dan kesedihan tidak dapat disembunyikan. Namun terlihat, bahwa ia dapat mengontrol emosinya dengan baik. Rodrigo menatap ayahnya, ia ingin melihat bagaimana ekspresi nya saat mengetahui siapa pelaku pembunuh kakeknya itu.

“Pevita,” Rodrigo menjawab pelan. Donny tidak terlihat terkejut. Ia menatap putranya dengan pandangan kosong. Mulutnya seolah terkunci. Donny menghela napas pendek, berjalan menuju sebuah kursi. Lalu duduk dengan ketenangan yang luar biasa.

“Dia sudah pergi?” tanyanya tiba-tiba.

“Iya. Dia sudah melarikan diri,” Rodrigo menunduk.

“Kita urus dia nanti. Untuk saat ini, yang harus kita pikirkan adalah kartel.” Donny mengelus jenggotnya yang tercukur rapi. Rodrigo terkejut. Donny menatapnya serius.

“Teritori kita akan menjadi rebutan para bedebah itu. Aku yakin kau tahu. Setelah kakekmu dimakamkan, kita akan langsung menggelar pengangkatanku sebagai Don Marquez selanjutnya. Jangan menunggu mereka menyerang. Kita akan mempertahankan kartel ini agar tetap ada. Kematian Miguel Marquez tidak akan berpengaruh apapun untuk kartel ini. Aku akan bekerja sama dengan The Royal’s untuk menyingkirkan cecunguk-cecunguk yang akan datang untuk menyingkirkan kita,” Donny menatap putranya yang terlihat amat terkejut.

“The Royal’s? Apa kau serius?” mata Rodrigo terbelalak. Donny mengangguk.

“Aku sudah menghubungi salah satu keluarga mereka,” ucap Donny. Rodrigo mengerutkan keningnya.

“Siapa?” tanyanya penasaran.

“Grace,” jawab Donny. Mulut Rodrigo menganga saking terkejutnya.

*to the next chapter

Glyn

Glyn

Glyn lahir di Cicurug, 19 Agustus 1984. Ia tinggal di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, seorang ibu muda yang gaul, hobi menulis dan bikin cerpen. Glyn juga menjadi pendidik di kota tempat tinggalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *