Kisah Bambu Runcing Berlumur Darah dari Pajampangan (Part 3)

Dalam laporan Nieuwe courant tanggal 5 Agustus 1950 bahwa terjadi demonstrasi di Surade yang dilakukan oleh sekitar 1.000 orang pendukung Cece Subrata.

Baca juga:

Kisah Bambu Runcing Berlumur Darah dari Pajampangan (Part 1)

Kisah Bambu Runcing Berlumur Darah dari Pajampangan (Part 2)

Perjanjian gencatan senjata sebagai hasil perundingan Renville antara Republik Indonesia dan Belanda (baca: Kisah Bambu Runcing Berlumur Darah dari Pajampangan (Part 1)), tak membuat Cece Subrata menarik laskarnya dari kantong-kantong perlawanan di Pajampangan (Jampangkulon dan Surade).

Bagaimana kelanjutan kisahnya, Gaess? Simak terus kisahnya, ya!

Perjanjian Renville memicu teror pembunuhan

Belanda dibuat pusing dengan situasi pasca perjanjian Renville (17 Januari 1948). Meskipun para pejuang Republik sudah meninggalkan kantong-kantongnya di Jawa Barat, tapi diperkirakan ribuan “penyusup” justru kembali ke kantongnya. Kesepakatan gencatan senjata juga tidak menghentikan serangan-serangan di kantong-kantong yang ditinggalkan, termasuk di Sukabumi.

Keadaan justru memburuk, persetujuan Renville malah meningkatkan pembunuhan. Korban bermunculan hampir setiap hari di beberapa tempat. Perkebunan milik orang Belanda seperti di Goalpara, Cipetir-Cikembang dan Gunung Buleud menjadi sasaran teror. Sebagian orang Belanda dan penduduk lokal terbunuh, termasuk penyerangan terhadap Jip Lori yang menewaskan pengawas S.S. kelas satu bernama H. J. Deighton, serta kematian de Jong dari Perkebunan Gunung Buleud.

Upaya untuk mengatasi teror dilakukan oleh Belanda dengan menangkapi dan membunuh laskar Bambu Runcing (BR). Sebagian dari mereka disiksa di gedung Van Delden depan sekolah polisi Sukabumi, dan dieksekusi di daerah Takokak secara massal tanpa pengadilan.

Terkecuali yang dianggap sebagai pimpinan diadili di Bogor. Salah satunya adalah penangkapan salah satu pimpinan elemen BR di Sukabumi, yang juga desersi tentara Jepang bernama Foshoda Tanaka. Seperti diberitakan oleh Nieuwe Courant tanggal 29 Juli 1948, Tanaka yang sudah berganti nama menjadi Kosim tersebut, dieksekusi di Bogor oleh Pengadilan Perang Khusus Brigade Infantri atas tuduhan melakukan serangan dan pembunuhan.

#Ngakilima @SukaKopi.
Pintu masuk Kantor Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi.
Kami buka 24 jam.

Kemunculan laskar tandingan

Entah setingan Belanda atau bukan, di saat-saat genting itu tiba-tiba muncul pendirian laskar rakyat (lain) di Sukabumi selatan yang konon beranggotakan 800 orang. Dalam laporan Het nieuwsblad voor Sumatra tanggal 18 November1948, laskar tersebut dibentuk untuk memerangi teroris yang sedang merajalela.

Mereka sempat melakukan kontak senjata dengan pasukan BR dan menyita beberapa dokumen BR tentang cara memeras penduduk. Akibatnya, pasukan BR bereaksi lebih keras lagi. Banyak penduduk dan pejabat lokal yang dibunuh. Salah satu elemen pasukan BR pimpinan Sambik bahkan melakukan penculikan dan pembunuhan yang agak meresahkan. Tak segan-segan orang-orang yang dianggap bekerja sama dengan pasukan Belanda dihilangkan, di antaranya adalah lurah Cipurut dan Bencoy yang digorok oleh anak buahnya Sambik.

Kembalinya Pasukan Siliwangi dari long march

Gen SukabumiXYZ tahu kisah sejarah long march Pasukan Divisi Siliwangi dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, kan? Peristiwa itu terjadi sebagai konsekuensi juga dari Perjanjian Renville. Nah, sekitar bulan Desember 1948, Pasukan Divisi Siliwangi mula kembai ke kantong-kantongnya di Jawa Barat, termasuk ke Sukabumi.

Dampaknya, mulailah terjadi konflik di lapangan yang bersifat ideologis antara Pasukan Siliwangi dengan Laskar BR. Cece dan pasukannya tetap merasa bahwa sikap Siliwangi yang mengikuti kemauan Belanda (dalam perjanjian Renville), tidak bisa dibenarkan. Mereka pun mencemooh pasukan Siliwangi sebagai pengkhianat dan antek-Belanda.

Sebuah catatan Kementerian Penerangan menyebutkan, “Mayor Kosasih (di kemudian hari menjadi Komandan Divisi Siliwangi, Kol. Infanteri R.A. Kosasih) bermaksud mencoba melakukan rasionalisasi dengan memasukan Brigade Citarum (BR) ini ke dalam satuan TNI dan meminta mereka untuk mendaftarkan senjatanya. Ternyata senjata yang dikumpulkan hanya senapan cuplis (senjata rakitan penduduk), senjata lainnya tidak diserahkan. Hal ini menimbulkan kecurigaan Siliwangi bahwa orang-orang ini adalah bekas anak buah Amir Sjarifudin (salah satu tokoh pemberontakan PKI Madiun),” tulis kementrian penerangan.

Cece merasa dikhianati dengan terbentuknya RIS

Lepas dari kecurigaan pihak TNI, hasil komunikasi Chaerul Saleh dengan komandan batalyon Siliwangi, Mayor Sambas, memunculkan harapan bagi kedua belah pihak. Terjadilah kesepakatan tak tertulis untuk tidak menghalangi Brigade Citarum jika hendak menyerang Belanda atau Negara Pasundan (Negara boneka bentukan Belanda) dan akan sama-sama melawan Belanda jika persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilakukan dari tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949, gagal.

Suasana semakin berangsur cair pascagencatan senjata yang diumumkan Bung Karno pada Agustus 1949. Setelah melewati masa masa getir selama gerilya, Brigade Citarum alias BR mulai turun dari kantong-kantongnya di hutan dan melakukan kerja sama dengan pasukan TNI.

Dalam laporan C.E Wenckebach, ketua komite pertanian umum rayon Sukabumi-Cianjur yang dilansir De vrije pers: ochtend bulletin tanggal 1 September 1949, wilayah Sukabumi kembali aman dan kegiatan masyarakat mulai berjalan. Cece dan pasukannya di Jampangkulon bahkan mampu menjaga ketertiban perusahaan-perusahan di daerah itu sehingga banyak perusahaan yang dibuka kembali.

Namun janji tinggallah janji, “kesepakatan itu tidak terwujud. Anak buah Sambas mengambil tindakan terhadap Brigade (Citarum), dan bekerja sama kembali dengan tentara Belanda,” tulis Harry A. Poeze dalam bukunya berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3: Maret 1947-Agustus 1948.

Gambaran indahnya hasil perundingan KMB ironis dengan kenyataan. Kemunculan Republik Indonesia Serikat (RIS) dianggap melenceng dari Proklamasi dan UUD 1945. Sesuatu yang sangat Cece curigai sejak pendirian Negara Pasundan di Jawa Barat yang dia anggap sebagai boneka Belanda. Tentunya sangat menyakitkan bagi Cece dan pasukannya yang merasa dikhianati dan dipermainkan, hal ini menyebabkan mereka kembali masuk ke hutan dan melakukan perlawanan.

editor’s picks:

Mengintip bekas persembunyian DI/TII di Goa Coblong, 5 fakta gen XYZ mesti tahu

Latihan perang Hindia Belanda di Kampung Lio, 5 fakta gen XYZ Sukabumi tahu?

Konflik senjata laskar Cece versus APRIS

“Karena ketidakfahaman pada substansi alasan BR lari ke hutan, maka masalah melebar,” ujar Apih Yance (baca: Part 1) menjelaskan. Seja itu, mulailah terjadi konflik senjata antara Cece dengan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) yang menyebabkan sebagian para pendukung Cece di Jampangkulon ditangkap.

Penangkapan itu memicu babak baru dalam hubungan Cece dan pemerintah RIS. Dalam laporan Nieuwe courant tanggal 5 Agustus 1950 bahwa terjadi demonstrasi di Surade yang dilakukan oleh sekitar 1.000 orang pendukung Cece Subrata. Mereka memaksa polisi dan personil militer untuk membebaskan kawan-kawannya yang ditahan. Polisi militer kemudian melakukan negosiasi dengan perwakilan pendemo.

Namun manusia hanya bisa berusaha, ketika negosiasi sedang berlangsung muncul sejumlah anggota BR menyerang dan melukai dua anggota polisi militer dengan pedang dan golok. Terbawa situasi panik, pasukan APRIS kemudian menembakan bren dan terjadi pertempuran sengit yang menewaskan setidaknya 20 orang pengunjuk rasa dengan korban yang tak terhitung.

Pemerintah RIS menuding BR dibalik peristiwa yang membuat geger masyarakat itu. Akhirnya, Laskar BR serta 16 organisasi sejenis lainnya dinyatakan sebagai gerombolan terlarang. Istilah gerombolan terlarang ini muncul melalui Peraturan Panglima Tentara dan Teritorium III no.25 tanggal 8 Agustus 1950. Dampanya, orang-orang yang dianggap dekat dengan Cece Subrata ditangkapi, termasuk seorang kepala desa di Surade.

Dilansir dalam Indische courant voor Nederland 7 Juli 195, Nyonya Moedigdo, anggota DPR fraksi PKI, sempat memprotes perlakuan tersebut, karena ternyata mereka disiksa di depan umum tanpa pengadilan. Keputusan itu semakin menguatkan sikap Cece dan pasukannya untuk melanjutkan perjuangan terhadap pihak yang mereka anggap sebagai pengkhianat perjuangan.

Ironis memang, para pejuang layaknya mustika, tetapi malah tertimpa petaka. Jalan terjal yang dipilihnya mengantarkan pada pertarungan antarsaudara yang menyedihkan.


Makin penasaran dengan ending kisah Cece dan laskarnya, ya? Simak terus lanjutannya, ya!

(bersambung)

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *