Kabupaten Sukabumi darurat kekeringan, ini 5 infonya Gaess

Sebanyak 16 kecamatan dinyatakan krisis air bersih.

Sudah sekitar sebulan hujan tak kunjung turun di Sukabumi ya, Gaess. Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih, terutama di beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi. Akibatnya, terhitung mulai tanggal 6 Agustus lalu Kabupaten Sukabumi ditetapkan sebagai status siaga darurat kekeringan. Status ini berlaku hingga tiga bulan ke depan.

Berikut lima info terkait status darurat kekeringan di Kabupaten Sukabumi.

1. Status siaga darurat kekeringan

Pemkab Sukabumi menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga tiga bulan ke depan. Tercatat sebanyak 16 dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi Maman Suherman mengatakan status berlaku mulai 6 Agustus 2018.

2. Daftar kecamatan darurat kekeringan

Sepuluh dari 16 kecamatan yang berstatus darurat kekeringan merupakan langganan kekeringan setiap kali musim kemarau datang. Adapun 16 kecamatan yang kesulitan air bersih, yaitu: Gunungguruh, Cikakak, Cibadak, Palabuhanratu, Warungkiara, Bantargadung, Cikembar, Gegerbitung, Simpenan, Kabandungan, Waluran, Lengkong, Parungkuda, Ciambar, Jampangtengah dan Jampangkulon.

BACA JUGA:

Gak cuma Indonesia, 5 negara di Asia ini merdeka bulan Agustus lho Gengs Sukabumi

5 alasan munculnya tuntutan Jampang mekar dari Kabupaten Sukabumi

Ini 5 hal yang selalu ada di dompet karyawati pabrik di Sukabumi

3. BPBD dan PDAM distribusikan air

Rapat koordinasi membahas antisipasi dan penanggulangan kekeringan terus dilakukan BPBD Kabupaten Sukabumi berkoordinasi secara lintas sektoral. Sementara ini, BPBD melibatkan PDAM dalam upaya mendistribusikan bantuan air bersih ke beberapa kecamatan.

Distribusi air menggunakan armada pengangkut air. Satu tangki berkapasitas 5.000 liter air bersih. Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, mengatakan pendistribusian air bersih sesuai dengan permintaan dari aparat pemerintah.

4. Sekitar 10 hektare lahan sawah gagal panen

Kemarau membuat beberapa wilayah tak terairi lahan sawahnya. Menurut catatan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jawa Barat per 3 Agustus lalu, sekitar 10 hektare lahan sawah di Sukabumi mengalami gagal panen atau puso.

Dari data yang sama terungkap bahwa lahan pertanian yang terdampak kekeringan mencapai 12.572 hektar, tersebar di 19 kabupaten, termasuk Sukabumi. Selain Sukabumi, kabupaten lain yang mengalami darurat kekeringan adalah Indramayu, Majalengka, Garut, Kabupaten Bogor, Cianjur, Sumedang, Ciamis, Cirebon, Kuningan dan Pangandaran.

5. Warga Desa Cikadu mandi pakai air sungai

Kekeringan sudah sejak sebulan terasa di Kecamatan Palabuhanratu (Plara). Bahkan di Desa Cikadu, warga terpaksa menggunakan air Sungai Citarik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu dilakukan karena sumber air berupa sumur maupun mata air sudah kering. Menurut keterangan warga setempat,  kondisi kekeringan terjadi setiap musim kemarau panjang. Warga pun berharap adanya bantuan pengiriman air bersih dari pemerintah terkait.

Kondisi serupa terjadi di Kampung Sekarwangi, Kelurahan Cibadak. Sudah sekitar sebulan sumur warga banyak yang mengering. Untuk memenuhi keperluan mencuci pakaian dan peralatan dapur serta mandi terpaksa harus ke Sungai Cimahi. Namun, air Sungai Cimahi saat musim kemarau yang keruh dan kotor ini diduga terpapar limbah.

Semoga musim kemarau segera berakhir dan hujan segera turun ya, Gaess. (dari berbagai sumber)

  • 29
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *