Ngaprak Sukabumi a’la Wak Ruher (episode 1): dari Batujolang, Tugu Gede sampai Ciptagelar

Mengalami putus rem sampai melihat sosok mistik “monyet nunggal” di Lembah Putih!

Bagi Rully Herdiansyah alias Wak Ruher, bahagia itu adalah saat bisa ngaprak Sukabumi dan sekitarnya dengan menunggangi dua motor kesayangannya, Suzuki Thunder 250cc atau motor trail hasil modifikasi dari Honda Tiger. Tak hanya di Sukabumi, lelaki kelahiran Cicurug Sukabumi 4 Februari 1976 ini juga kerap ngaprak di daerah-daerah tetangga, Bogor dan Cianjur.

Lokasi-lokasi favorit Wak Ruher terutama yang mempunyai muatan sejarah dan lansekap alam yang indah. Tak pelak ada banyak kisah unik dan menarik serta tangkapan foto indah dari setiap perjalanan Wak Ruher. Ia pun mendokumentasikan ngaprak-nya tak hanya dalam bentuk foto-foto tetapi juga tulisan seperti ini.
Nah, ada banyak tempat yang telah dikunjungi Wak Ruher di Sukabumi dan mungkin belum gen XYZ Sukabumi ketahui. Simak penuturan Wak Ruher dalam tulisan episode perdana ini!

1. Ngaprak untuk bertadabbur alam

Ngaprak-nya Wak Ruher merupakan bagian dari cara tadabbur (mengenal) alam, khususnya Sukabumi. Dengan ngaprak, Wak Ruher ingin berterima kasih sekaligus bersyukur kepada Allah, Sang Pencipta Alam yang telah berbaik hati membaluti Sukabumi dengan keindahan alam yang tak ada duanya di dunia.

Maka, di setiap tempat yang dikunjungi Wak Ruher selalu ia bertafakur atau merenungkan segala fenomena yang terjadi di alam semesta. Dalam aktivitas perenungan itu, timbul sadar dalam diri Wak Ruher perihal pentingnya menjaga kelestarian alam dan merawat sejarah sebagai bentuk tasyakur kepada Sang Pencipta.

“Penting bagi kita untuk menjaga alam Sukabumi dan merawat sejarah yang menyertai eksistensinya,” ujar Wak Ruher.

2. Mengagumi situs Batujolang

Ngaprak Wak Ruher bermula dari lokasi yang paling dekat dengan rumahnya di Cicurug, yaitu Situs Batujolang alias Batu Kujang. Terletak di Kampung Tenjolaya Girang, Desa Cisaat, Cicurug, Batujolang hanya berjarak 10 km dari jalan arteri Cicurug dan bisa ditempuh oleh semua jenis moda transportasi.

Bagi Wak Ruher, ngaprak ke Batujolang seperti pindah dari ruang tamu ke dapur saja. Namun demikian, Wak Ruher tak pernah bosan mengunjungi Batujolang. Selain karenanya jalannya bagus dan pemandangan alam indah sampai lokasi, juga karena aura sejarahnya yang membuat Wak Ruher selalu ingin mengunjungi untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul dengan juru pelihara situs, Abah Uci dan Kang Wawan Solih.

Batujolang yang diperkirakan dibangun sekitar 50 sebelum masehi (SM), menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat purba Cicurug. Oleh karena itu, Batujolang harus dikenali dan dirawat, setidaknya dengan mengunjungi dan mengaguminya.

BACA JUGA:

Jangan ngaku pernah ke Cibadak Sukabumi kalau belum cicipi Ayam Geprek Bah Dadan

Seberapa greget maneh jadi penggangguran Sukabumi? Ini 5 jawaban kocak netizen

Keren Gengs, ada kampung colorful di Cikurutug Kabupaten Sukabumi

3. Merenungi kearifan lokal Kasepuhan Ciptagelar

Wak Ruher sudah berulang kali mengunjungi Ciptagelar melalui berbagai jalur, terutama saat gelaran Serentaun. Mengunjungi Ciptagelar, bagi Wak Ruher adalah menjemput kearifan lokal tentang bagaimana memandang hidup. Dalam kesederhanaan tanpa kepura-puraan, kearifan lokal Ciptagelar bisa menjadi “penawar racun” bagi kehidupan manusia modern yang semakin materialistik dan hampa nilai.

Dua tokoh Ciptagelar, Abah Ugi dan Kang Yoyo, menjadi sosok paling asyik untuk didengarkan tentang pituah-pituah kearifan lokal Kasepuhan Ciptagelar. Selain dari itu, Ciptagelar yang berada persis di atas “mangkok” Puncak Gunung Halimun, antara Sukabumi dan Banten mempunyai lansekap alam yang sangat memanjakan mata. Hati Wak Ruher pun selalu tenteram saat berada di tengah-tengah alam yang sejuk dan damai.

Ada kejadian unik menegangkan dialami Wak Ruher dalam salah satu perjalanan ke Ciptagelar. Motor trail tempurnya hasil modif Honda Tiger mengalami putus rem. Walau demikian itu tak menyurutkan Wak Ruher untuk melanjutkan perjalanan.

4. Mampir di Tugu Gede Cengkuk

Masih di sekitar kaki Gunung Halimun, tepatnya di Kampung Cengkuk, Kelurahan Margalaksana, Kecamatan Cikakak, juga ada situs megalitikum yang oleh warga setempat disebut situs Cengkuk atau Tugu Gede. Hampir sama dengan Situs Batujolang, ada banyak jenis batu di situs ini dan kemungkinan besar peninggalan peradaban pra sejarah.

Bedanya dengan situs Batujolang, di Cengkuk ditemukan berbagai jenis peralatan rumah tangga seperti mangkuk, guci, botol, piring, vas, dan cepuk. Selain itu, ada juga benda logam berupa genta, bandul, dan kaki wadah dab berbagai batu: batu giling, lumpang batu, pipisan, mata tombak, beliung, dan alat serut. Hal itu menunjukkan situs Cengkuk lebih maju peradabannya dari Batujolang atau terdapat tatanan masyarakat yang lebih kompleks di Cengkuk.

Mengunjungi Cengkuk yang dinaungi indahnya Gunung Halimun memberikan kenikmatan batin tersendiri bagi Wak Ruher.

5. Trek aduhai tanah liat menuju maqom Pangeran Jampang Manggung

Ngaprak si Uwak Ruher tak selalu disengaja. Kadangkala iseng menemukan rute baru yang rupanya tak kalah indahnya. Salah satunya tatkala Wak Ruher hendak menuju makam panjang Pangeran Jampang Manggung di Ciambar, dari Cicurug ia iseng memilih jalur memutar melalui Desa Purwasari masuk ke kampung Babakan Sawah tembus menuju Ciambar.

Tanpa sengaja, Wak Ruher melewati rute jalan tanah liat yang menantang sekaligus juga indah dan layak foto. Lokasinya di Lembah Putih (kaki Gunung Gede Pangrango). Salah satu kampung yang menarik untuk dikunjungi di daerah itu adalah kampung Leuwi Keris, dekat dengan Kampung Arca. Kabarnya di daerah itu ada juga situs megalitikum yang belum diungkap dan belum banyak orang yang tahu.

Dalam perjalanan di Lembah Putih, Wak Ruher sempat mengalami kejadian mistik di mana ia tanpa sengaja bertemu penampakan sosok “monyet nunggal” menggelantung dan menghampirinya. Karena kaget Wak Ruher bergegas balik arah karena takut mengingat mahluk yang ia lihat hampir sebesar manusia.

Rupanya menurut penduduk setempat, memang daerah itu (Lembah Putih) dihuni oleh sesosok seperti yang ia gambarkan. Namun, masih kata penduduk jarang sekali mahluk itu menampakan diri. “Sangat beruntung sekali bertemu dengannya,“ kata penduduk. Wallahualam!

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *