Dari Nurjanah, ortu Sukabumi mesti aware 5 tanda remaja berisiko bunuh diri

Dari mulai rasa bosan sampai narkoba menjadi gejala remaja berisiko bunuh diri.

Warga Sukabumi dibuat mengelus dada dengan munculnya kasus bunuh diri Nurjanah, seorang ABG usia 16 tahun asal Nagrak. Hanya karena putus cinta, Nurjanah memutuskan diri untuk mengakhiri hidupnya. Dan lebih mengagetkan lagi ternyata ada fakta terkuak bahwa dalam 2 tahun belakangan, setidaknya ada lima (5) kasus bunuh diri serupa yang dilakukan oleh remaja.

Nah, jangan kaget Gaess,  bunuh diri di kalangan remaja itu merupakan tren global. Artinya, terjadi di di mana-mana dan penyebabnya depresi. Menurut Benny Prawira Siauw, pengkaji bunuh diri (suicidolog), tren depresi di kalangan muda ada di banyak negara. Benny yang merupakan kepala koordinator Into the Light (komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri), mencontohkan Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia sebagai negara dengan angka bunuh diri di kalangan remaja yang tinggi.

Dan di Indonesia sendiri, pada rentang pertengahan 2018  dari beragam pemberitaan online tercatat 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi. Di Sukabumi sendiri, seperti sudah disebutkan, setidaknya ada lima kasus bunuh diri remaja di rentang dua tahun belakangan.

Tentu saja fakta ini sangat mengagetkan, terutama bagi orang tua yang punya anak remaja. Rasa was-was pun muncul di kalangan orang tua. Kenyataannya, memang tidak mudah mengurus remaja yang memasuki masa pubertas.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh orang tua Sukabumi? Well, sebagai awalan silakan simak lima tanda-tanda remaja yang berisiko bunuh diri berikut. Karena salah satu cara untuk mencegah fenomena bunuh diri adalah dengan mengetahui gejalanya.

[1] Gampang tersinggung alias baperan

Salah satu tanda remaja berisiko bunuh diri adalah mudah tersinggung atau kalau bahasa sekarang baperan. Perasaan tersinggung kemudian akan memunculkan stres dan memicu sang remaja untuk melakukan tindakan yang merugikan bagi diri mereka sendiri.

Menurut penelitian, tanda ini adalah “lampu merah” bagi orang-orang di sekitar, khususnya para orang tua. Saat Anda sebagai orang tua melihat tanda ini, ada baiknya Anda memberikan perhatian yang lebih pada remaja. Jangan ragu untuk meluangkan waktu Anda seluas-luasnya.

[2] Merasa tak berharga

Ada beberapa perasaan seperti merasa tidak diakui, tidak dianggap dan tidak dihargai oleh keluarga atau lingkungan, bisa mendorong keinginan bunuh diri pada remaja. Pada titik tertentu ia akan mengembangkan rasa tak diperlukan lagi, dan kemudian tak ada gunanya hidup.

Ortu Sukabumi, sering-seringlah memberikan kasih sayang dalam bentuk di mana anak merasa dihargai dan berharga. Pujilah setiap anak melakukan kebaikan. 

BACA JUGA:

Gegara cinta siswi SMA Cibadak minta disuntik mati, 5 info ortu Sukabumi wajib tahu

Jalan pintas ala Nurjanah, gadis asal Nagrak Sukabumi

Nurjanah dan 5 kasus bunuh diri remaja Kabupaten Sukabumi 2017-2019

[3] Merasa bosan dan gak konsen

Waduh, repot kalau sudah merasa bosan.  Ini solusinya hanya satu, perbanyak liburan. Orang yang merasa bosna ya pastinya kurang piknik.

Rasa bosan dan tak mampu berkonsentrasi sendiri disebut sebagai salah satu indikator gejala depresi. Pada satu titik, didukung oleh kondisi-kondisi lainnya, ujung-ujungnya rasa bosan bisa memicu keinginan bunuh diri pada remaja. Waduh!

[4] Konsumsi alkohol dan narkoba

Tak perlu dipertegas lagi jika alkohol dan narkoba berbahaya, terutama sekali bagi remaja. Dari berbagai penelitian terungkap bahwa penggunaan narkoba dan alkohol merupakan salah satu faktor pemicu kasus bunuh diri.

Di kalangan remaja khususnya, kebiasaan mengonsumsi alkohol dan narkoba menandai perilaku yang menyimpang. Dalam konteks ini, semua pihak mesti waspada betul. Orang tua mengawasi secara melekat, dan aparat berwenang serius memerangi peredaran alkohol dan narkoba. Jangan sampai remaja mudah mendapatkan alkohol dan narkoba.

[5] Suka menyendiri

Nah, ini! Anda orang tua yang melihat gejala anak-anak Anda menyendiri dan cenderung melamun, jangan tunggu besok lagi. Lakukan pendeketan segara dengan cara yang baik dan tak terkesan menekan yang malah akan membuat anak makin tertutup.

Dari hasil penelitian, menyendiri atau menjauhkan diri dari lingkungan sosial menandai terjadinya gangguan mental yang terjadi pada seorang remaja. Perilaku menyendiri pada remaja menjadi salah satu sinyal risiko bunuh diri.

Temukan cara menyelesaikannya dan lakukan dengan penuh kasih sayang!

Sumber: CBS News mengutip dr Benjamin Shain dari American Academy of Pediatrics – dengan penyesuaian

  • 3
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *