Kisah dua raja dibuang ke Sukabumi dan dimakamkan di Palabuhanratu

Salah seorang raja menikahi wanita Palabuhanratu.

Generasi XYZ Sukabumi wajib mengetahui betapa pentingnya Sukabumi pada masa kelam masa silam saat para pejuang bertaruh nyawa pada masa kolonial. Selain hawanya sejuk dan alamnya yang indah, kota kebanggan kalian ini juga menjadi tempat pembuangan para pahlawan dan pejuang yang dianggap membahayakan penjajah Belanda.

Mungkin sebagian sudah tahu bahwa Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir dibuang ke kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Sukabumi. Ternyata masih ada pahlawan dan pejuang lainnya yang dibuang ke Sukabumi lho

Siapa saja mereka? Mereka adalah Raja Langkat dan Raja Lombok. Berikut adalah kisah pahlawan dan pejuang pernah dibuang ke Sukabumi selain Hatta dan Sjahrir #Part2.

Kuy kita simak kisahnya.

[1] Raja Langkat

Sekitar tahun 1862-1865 pernah terjadi perlawanan terhadap Belanda oleh Raja Langkat bernama Sutan Muhammad Syekh atau disebut juga Tan Matsyekh, ia menjadi raja menggantikan ayahandanya Tuanku Wan Sopan. Mereka berjuang tidak sendirian, dibantu persenjataan dari Aceh oleh Tuanku Hasyim dan suku-suku lainnya. Sehingga tidak heran jika dalam pasukan Matsyeh terdiri dari banyak suku seperti Aceh, Gayo, Alas, dan Karo.

Pasukan Matsyeh terkenal dengan sebutan pasukan Selimin (asal kata dari Muslimin). Perjuangan perlawanan yang dipimpin oleh Matsyeh memberikan efek domino sehingga di daerah lainnya timbul pergolakan di Bohorok, Sunggal, Kampai hingga Serdang.

Perjuangan selama 3 tahun akhirnya berhasil dilumpuhkan dengan tipu muslihat pada Oktober 1865 (Said:1981). Tan Matsyekh ditangkap oleh Belanda di Hamparan saat menghadiri undangan adat perkawinan sahabatnya tanpa membawa pasukan. Kemudian pada 27 Mei 1866 Tan Matsyekh dibawa oleh Belanda menggunakana Kapal Dassoon ke Batavia, lalu ke Sukabumi.

[2] Raja Langkat di Sukabumi

Dari Sukabumi Tan Matsyekh dikirim ke wilayah selatan yaitu Pelabuhanratu, dan meninggal pada 1885. Ia dikebumikan di pingir Pantai Pelabuhanratu berdekatan dengan lokasi yang kemudian menjadi Samudera Beach Hotel (SBH) dengan batu nisan bertuliskan “RAJA LANGKAT OCTOBER 1885”.

Kuburannya kemudian dipindahkan ke Karanghawu, karena di lokasi tersebut dibangun SBH sekitar tahun 1960-an.

BACA JUGA:

Catatan dari balik sejarah Balai Kota Sukabumi, dari Lie Ek Tong, resesi ekonomi, hingga sosok hitam

Tjikasintoe, mengeksplorasi mitos dan kisah heroik di Cidadap Sukabumi

#Part1: Pahlawan dan pejuang pernah dibuang ke Sukabumi selain Hatta dan Sjahrir

[3] Raja Lombok

Raja Lombok Gusti Made Djelantik, dibuang ke Sukabumi karena perlawananya tehadap Belanda. Pada 1894 Belanda mengirimkan ancaman kepada Raja Lombok yang berbunyi: ”Pertama, Raja Lombok harus menunjukkan penyesalannya kepada pemerintah Belanda perihal hubungan yang meruncing antara Lombok dan Belanda. Kedua, menyerahkan putra mahkota bernama Anak Agung Made yang bersikap memusuhi Belanda!”

Namun, ancaman itu ditolak oleh Raja Lombok. Maka terjadilah pertempuran sesi pertama yang dimenangkan Raja Lombok. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, Belanda menerima bala bantuan, lalu menyerbu ke Cakranegara dan Mataram.

[4] Raja Lombok ditawan

Ketika Putra Mahkota Lombok mengetahui bahwa dirinya akan ditangkap oleh Belanda, maka ia mengadakan puputan, sedangkan Raja Lombok ditawan dan diasingkan ke Batavia.

Selain itu, setelah Raja Lombok ditangkap dan ditawan, kemudian dibawa ke Batavia dan dibuang ke Sukabumi, peperangan masih berlangsung di daerah Bukit. Di situlah juga, di pulau-pulau kecil seperti Lombok, dengan jalan kekerasan pemerintah Belanda memaksakan pax neerlandika-nya.

[5] Raja Lombok di Sukabumi

Raja Lombok keturunan Raja Karangasem Bali ini kemudian menetap di Sukabumi, ia kemudian menikah dengan wanita Palabuhanratu dan memeluk Islam. Setelahnya ia menetap dan meninggal di Palabuhanratu.

Lokasi kuburannya berada di depan Hotel Karangsari Palabuhanratu yang kemudian diberikan kepada Bupati Sukabumi kedua Soeria Danoeningrat. Selain itu ada Pangeran Abdul Madjid keluarga Raja Lombok meninggal pada tahun 1943 dan dikuburkan di Sukabumi.

Nah, Gaess, masih ada lho beberapa pejuang lainnya yang konon dibuang ke Sukabumi atau sempat tinggal sementara sebelum pembuangan terakhir, dari mulai Sultan Madailing Natal hingga Tjut Nyak Dien sebelum dibuang ke Sumedang.

Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya #Part3: Pahlawan dan pejuang pernah dibuang ke Sukabumi selain Hatta dan Sjahrir.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *