Miris Gengs, nelayan Ujunggenteng Sukabumi berjibaku dengan 5 masalah

Soal regulasi larangan penangkapan benur, nelayan UG berharap solusi alternatif.

FYI ya Gaess gen Y Sukabumi, menjadi nelayan di Ujunggenteng (UG) bukanlah pekerjaan mudah. Ada berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi setiap hari; dari mulai cuaca ekstrem, persaingan bisnis sampai regulasi pemerintah. Namun demikian kehidupan mesti terus berlanjut, dapur harus tetap ngebul.

Ini lima tantangan yang kerap dihadapi nelayan asli UG hasil ngobrol santai sukabumiXYZ.com dengan Ikhsan Fadilah S. (27 tahun), seorang nelayan muda dan pemilik perahu Putra Cikal. Bersama sang kakak, Dadi yang lebih dulu merintis bisnis ikan dengan 32 armada perahu tradisional berbendera Putra Cikal YDT-nya, Ikhsan sehari-hari beraktivitas di Pantai Kalapa Condong, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

BACA JUGA: Gaess, ini 5 catatan ihwal Kerajaan Jampang Manggung Kabupaten Sukabumi

1. Cuaca ekstrem

Berbicara soal pekerjaan nelayan, maka akan sangat tergantung dengan cuaca dan isi laut. Kalau cuaca bagus dan isi laut bersahabat, ya tangkapan nelayan pun akan bagus. Tapi jika sebaliknya, ya nelayan pun ‘gigit jari.’ “Sejak akhir tahun 2017 lalu, laut selatan terus dihantam oleh badai Dahlia dan angin barat. Kondisi tersebut tak menguntungkan nelayan,” ujar Ikhsan.

Badai dahlia yang dimaksud adalah siklon tropis Dahlia yang menghantam perairan selatan sepanjang pulau Jawa sejak akhir tahun lalu. Nelayan di UG termasuk yang menjadi korban keganasan siklon tropi itu. Selain tak bisa melaut, banyak perahu nelayan yang hancur akibat badai tersebut.

Tantangan cuaca ekstrem lainnya yang kerap dihadapi nelayan UG adalah angin barat atau Angin Musim Barat atau Angin Muson Barat. Ini adalah angin yang berhembus dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di Indonesia bagian Barat. Hal itu disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra.

Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan. Angin ini terjadi antara bulan Oktober sampai bulan April di Indonesia terjadi musim hujan. Di bulan-bulan itulah nelayan UG kesulitan untuk melaut dan mencari ikan.

BACA JUGA: Kembali, tiga wisatawan korban pantai selatan Kabupaten Sukabumi, ini 5 infonya

2. Regulasi pemerintah

Selain cuaca, nelayan UG seperti layaknya nelayan lain di Indonesia juga “terdampak” oleh regulasi (peraturan) yang dibuat pemerintah, baik daerah maupun pusat. Termutakhir, regulasi yang dikeluhkan nelayan UG adalah Permen Menteri KP No. 1/2015 yang dikeluarkan oleh Menteri Susi Pudjiastuti. Poin yang banyak dikeluhkan nelayan UG adalah soal larangan penangkapan benur atau anakan lobster.

Padahal, menurut Ikhsan, benur sebelumnya menjadi salah satu komoditas andalan nelayan asli UG yang menggunakan perahu tradisonal. “Selain harganya bagus, nangkapnya juga mudah,” ujarnya.

Dengan demikian, nelayan UG berharap ada solusi alternatif dari Menteri Susi perihal benur ini. Selain itu, para nelayan juga mengeluhkan penangangan pelaku penangkapan ilegal benur. Semestinya tidak perlu sampai dipenjara, cukup dirampas saja benur ilegalnya. Itu dianggap sudah cukup memberi efek jera karena nelayan merugi besar saat benurnya disita.

BACA JUGA: Layur tembus pasar Korea-Jepang, ini 5 tangkapan andalan nelayan Ujunggenteng Sukabumi

3. Biaya operasional

Biaya operasional adalah biaya yang fiks, mesti ada. Biasanya keluhannya di harga bahan bakar. Rupanya hal tersebut tidak menjadi kendala saat ini. Harga bahan bakar cukup terjangkau oleh nelayan.

Namun ada satu masukan dari nelayan UG perihal perahu bantuan pemerintah bertenaga LPG yang kebanyakan tidak tepat sasaran. Ada yang tidak punya perahu malah diberi bantuan, lalu ada yang perahu bantuannya malah dijual, bukannya dipakai. Hal itu disayangkan karena sebetulnya program bantuan itu dinilai bagus.

4. Persaingan bisnis

Persaingan bisnis akan selalu ada dan menjadi tantangan di segala jenis bisnis, tak terkecuali nelayan. Sejauh ini di UG para nelayan menilai persaingannya masih sehat-sehat saja. Patokannya adalah kenyataan bahwa nelayan asli dengan perahu tradisional masih terus bisa survive (bertahan hidup), bahkan berkembang usahanya.

Keberadaan kepala kapasitas besar dengan mesin diesel dan jumlah ABK (anak buah kapal) enam orang pun dinilai tak berimbas signifikan terhadap nelayan asli. FYI, nelayan asli UG kebanyakan menggunakan perahu kecil dengan jumlah ABK 2-3 orang.

Sebenarnya ada dua jenis perahu (fiber) yang digunakan nelayan asli UG. Pertama adalah jenis kecil dengan kapasitas tangkapan 2 kuintal, dan jenis besar dengan kapasitas tangkapan bisa sampai 5 kuintal. Untuk perahu jenis kecil, nelayan UG harus merogoh kocek sampai Rp.35 juta dan yang besar seharga Rp45 juta.

BACA JUGA: Gengs, ini 5 fakta Opak Ketan Jampang Kulon Sukabumi go national

5. Hari nelayan dan daya tarik wisata

Untung saja, nelayan UG tak hanya mengandalkan hasil laut. Saat hari nelayan yang jatuh pada tanggal 5 Mei, dan hari-hari libur seperti Idul Fitri, nelayan UG bisa bertransformasi menyediakan jasa sewa perahu bagi para wisatawan.

Selain jasa sewa perahu, nelayan juga bisa membuka usaha warung, kedai makanan, bahkan penginapan untuk mencari tambahan penghasilan, terutama saat cuaca tak bersahabat dan tidak bisa melaut.

  • 6
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *