Sesar Palu Koro picu tsunami, Sukabumi waspadai Sesar Cimandiri, ini 5 faktanya

Sesar Cimandiri picu gempa yang terasa di Sukabumi pada beberapa bulan belakangan.

Bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Palu dan Donggala) sangat memilukan. Ribuan korban jiwa berjatuhan dan hilang, hotel ambruk, jembatan terputus, rumah-rumah rontok tersapu tsunami, bumi bergerak menelan apapun yang ada di atasanya. Rupanya ada warga Sukabumi juga yang terimbas bencana tersebut, untungnya masih bisa selamat.

Menurut BMKG, bencana dahsyat tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Palu Koro. Nah, Sukabumi juga dilintasi oleh Sesar Cimandiri yang tersambung dengan dua sesar lainnya, Sesar Lembang dan Sesar Baribis. Dengan tidak bermaksud menakut-nakuti, jika berkaca pada bencana di Palu, pantaslah jika warga Sukabumi waspada akan segala kemungkinan yang mungkin muncul.

Apa itu Sesar Cimandiri? Berikut lima fakta sesar yang dalam beberapa bulan belakangan turut memicu gempa yang berpusat di sekitar daerah Kabupaten Lebak, Banten.

1. Sesar Cimandiri dari Pelaburahratu sampai ke Subang

Lokasi Sesar Cimandiri merupakan sesar atau patahan geser aktif memanjang mulai dari muara Sungai Cimandiri di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, lalu mengarah ke timur laut melewati Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang.

Bentuk morfologinya terekam dalam bentangan Teluk Pelabuhan Ratu hingga selatan Kota Sukabumi berupa kelurusan sepanjang lembah Cimandiri. Menurut penelitian awal yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2006, Sesar Cimandiri terbagi dalam lima segmen, yaitu segmen 1 antara Cimandiri Pelabuhan Ratu-Citarik, Segmen 2 Citarik-Cadasmalang, segmen 3 Ciceureum-Cirampo, segmen 4 Cirampo-Pangleseran, dan segmen 5 Pangleseran-Gandasoli.

2. Sesar Cimandiri aktif dan berpotensi bencana

Untuk diketahui, Sesar Cimandiri termasuk dalam kategori sesar aktif, dan karenanya berpotensi memicu bencana gempa bumi. Pergerakan sesar ini tercatat bergerak 4 hingga 6 mm per tahun dengan bentuk patahan yang bergeser ke kiri (left lateral). Pergeseran sesar yang bergerak ke arah samping ini, untungnya hanya berpotensi menimbulkan bencana tsunami dalam skala kecil, mengingat salah satu penyebab utama bencana tsunami adalah pergerakan sesar naik/mengarah ke atas.

Para peneliti juga mengindikasikan bahaya risiko bencana gempa bumi sepanjang jalur patahan Cimandiri ini. Melihat catatan sejarah kebencanaan gempa bumi yang terjadi sejak awal abad 19 menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri bertanggung jawab terhadap gema bumi Pelabuhan Ratu (1900), gempa bumi Cibadak (1973), gempa bumi Gandasoli (1982), gempa bumi Padalarang (1910), serta gempa bumi Sukabumi (2011).

BACA JUGA:

Enam warga Sukabumi ikut pameran di Palu selamat dari tsunami, ini 5 infonya

5 alasan munculnya tuntutan Jampang mekar dari Kabupaten Sukabumi

Milenial Sukabumi, ini 5 fakta tentang waktu yang bisa bikin kamu pusing

3. Sesar Cimandiri picu gempa bumi beberapa bulan belakangan

Kewaspadaan warga Sukabumi juga harus berdasar pada fakta bahwa beberapa bulan belakangan, gempa bumi yang terasa di Sukabumi dan berpusat di Lebak, Banten, di antaranya dipicu oleh aktivitas Sesar Cimandiri.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) patahan Cimandiri menjadi sumber gempabumi yang menggoyang Lebak, Provinsi Banten, Juli lalu. BMKG menegaskan gempabumi tiga kali berturut-turut di Lebak di bulan Juli, sekaligus menunjukkan aktivitas sesar Cimandiri, salah satu sesar gempabumi yang ada di Jawa Barat.

4. Sesar Cimandiri bertemu dua sesar lainnya

Sesar Cimandiri ternyata bertemu dengan Sesar Lembang di wilayah Padalarang dan Sesar Baribis di Subang. Kenyataan ini mengungkap fakta bahwa walaupun Sesar Cimandiri tidak sedang beraktivitas, namun dapat terpengaruh jika Sesar Lembang dan Sesar Baribis aktif. Seperti efek berantai, aktivitas di Sesar Lembang dan Sesar Baribis bisa juga memengaruhi Sesar Cimandiri.

5. Sesar Cimandiri picu gempa di Jakarta

Tak hanya di Sukabumi dan sekitarnya, Sesar Cimandiri juga bisa memicu gempa bumi di ibukota Jakarta. Sebagai contoh gempa dengan magnitudo 6,1 SR yang terjadi pada Januari 2018 berhubungan dengan aktivitas sesar Cimandiri.

Karena sesar Cimandiri yang menjadi pusat gempa mempunyai karakteristik yang relatif dalam, membuat efek goncangannya luas sampai ke Jakarta. Kondisi bebatuan di satu lokasi juga mempengaruhi efek goncangan tersebut sehingga Jakarta merasakan gempa relatif keras. “Jenis bebatuan di Jakarta itu, jenis batuan yang urai. Itu akan lebih menambah efek goncangan. Jakarta dan daerah dengan karakteristik batuannya yang lepas akan merasakan begitu,” demikian diungkapkan peneliti BMKG.

Semoga Allah Swt. melindungi kita semua dari segala cobaan hidup. (dari berbagai sumber)

  • 85
    Shares
Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *