RSJ Makassar siapkan kamar VIP untuk caleg stres, bagaimana di Sukabumi? Ini 5 infonya

RSUD Sekarwangi akan menampung caleg stres atau gila akibat kalah Pemilu 2019.

Calon legislatif alias caleg mengalami depresi dan stres akibat kalah dalam perhelatan pemilu legislatif (Pileg) kerap menjadi fenomena unik dan menyedihkan di negara kita. Fenomena ini bisa terjadi di mana saja, tak terkecuali di Sukabumi.

Nah, di Makassar bahkan pihak rumah sakit jiwa setempat sengaja menyiapkan pelayanan khusus untuk pasien caleg stress atau gila. Pelayanan itu lengkap dengan fasilitas kamar dan harganya yang sesuai kelasnya.

Lalu bagaimana dengan Sukabumi? Bagaimana pihak-pihak terkait menangani potensi pasien caleg stres atau gila di Sukabumi. Berikut lima info perihal pelayanan caleg stres di Makassar dan perbandingannya dengan Sukabumi yang dikumpulkan redaksi Sukabumixyz.com dari berbagai sumber.

1. RSJ siapkan kamar VIP untuk caleg stres

Rumah Sakit Khusus Daerah Sulawesi Selatan (RSKD Sulsel) atau Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar dikabarkan telah menyiapkan berbagai pelayanan kamar, termasuk kamar VIP untuk para caleg yang mengalami depresi karena kalah di Pileg 2019.

“Untuk kelas I ada sekitar 50-60 kamar. Kalau VIP, baru kita rencanakan 6 kamar. Itu kita siapkan sambil kita tata pelan-pelan rumah sakit ini,” ujar Direktur RSKD Sulsel Arman Bausat seperti dikutip dari detik.com, Selasa (12 Februari). Arman mengaku menyiapkan kamar itu untuk mengantisipasi caleg yang gagal dalam Pemilu 2019.

2. Kamar VIP bak hotel

Nah, khusus kamar VIP di RSJ Dadi Makassar itu disebut bak hotel. Memang berapa tarifnya? Kamar VIP itu diberi tarif Rp785 ribu per malam, sedangkan kelas I yang bisa diisi dua pasien Rp300 ribu per malam, dan kelas II dengan harga Rp200 ribu per malam.

Total ada 6 kamar kelas VIP yang disiapkan bagi calon pasien. Diperkirakan pasien dengan label caleg akan datang seminggu setelah pencoblosan. “Kalau tanggal 17 (April) kan belum stres kan. Biasanya satu minggu baru kelihatan gejalanya. Gejalanya kan depresi dulu, diam dulu. Jadi kalau ada orang datang kita siap melayani,” ucap Arman.

“Nanti mereka (dokter) akan mentriase, oh ini tingkat stresnya segini, ini agak parah. Kalau dia sangat parah ada juga ICU,” tambahnya.

BACA JUGA:

Ada 17 WNA punya e-KTP di Sukabumi, apa kata Bawaslu?

Ribuan penyandang disabilitas dan ODGJ Sukabumi ikut Pemilu, 5 fakta gen XYZ mesti aware

Dari terciprat tinta sampai foto buram, 5 fakta ribuan surat suara rusak di Sukabumi

3. RS Sekarwangi siap tampung caleg stres

Lalu bagaimana dengan kesiapan rumah sakit di Sukabumi menampung caleg yang stres? Dari berita yang dimuat Radar Sukabumi akhir Februari 2019 lalu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekarwangi menyatakan siap menampung caleg stres atau gila akibat kalah Pemilu 2019.

Humas RSUD Sekarwangi Ramdansyah mengungkapkan, saat ini sebetulnya belum ada kebijakan soal penanganan caleg stres. Pihak Sekarwangi baru akan melakukan kajian dengan instansi terkait mulai Bawaslu dan KPU apakah dibutuhkan atau tidak. Namun demikian, secara SOP ada tidak kebijakan khusus, kalau ada pasien caleg stres ya akan ditangani.

“Intinya kalau ada caleg yang gila kita siap menampung, ada ruangan Poly kan di sini. Dan sebetulnya kan rumah sakit tidak mengenal masa pemilu atau tidak, jika ada orang gila atau yang membutuhkan obat atau rawat jalan kita tampung,” jelas Ramdan.

Sejauh ini RSUD Sekarwangi juga melanyani orang gila. Ada sekitar 50 lebih pasien gila yang melakukan pengobatan di Sekarwangi. Artinya, RSUD Sekarwangi siap menampung pasien stres akibat gagal di Pileg 2019 nanti.

4. Berkaca dari Pileg 2014

Pada tahun 2014, pasca Pileg 2014 pasien caleg yang kalah dan mengalami stres tercatat di Sukabumi. Dari kesaksian dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah R Syamsudin (Bunut) Kota Sukabumi bernama Tomi Hermansyah, pada tahun 2014 ia menerima sekitar lima pasien caleg.

Dari hasil pemeriksaan caleg yang berkonsultasi mayoritas depresi atau belum bisa menerima kekalahannya pada pemilu. Namun demikian, tingkat depresinya masih ringan sehingga tidak perlu untuk dirawat inap. Mayoritas caleg gagal yang berkonsultasi mengeluh tidak bisa tidur karena masih membayangkan kekalahan. Pengobatannya cukup terapi jalan agar kondisi emosional dan kejiwaan kembali normal.

Tomi juga mengakui, setiap pemilu selalu ada caleg yang datang ke RSUD R Syamsudin, khususnya ke spesialis kejiwaan untuk berkonsultasi setelah kalah dalam perebutan kursi. Namun tak ada mantan caleg yang depresi berat sampai gila.

5. Caleg gagal, curi kotak suara hingga gantung diri

Poin yang perlu menjaid perhatian bahwa fenomena caleg gagal yang mengalami stres bukanlah masalah biasa-biasa saja. Kecewa, marah dan stres membuat para caleg yang gagal melakukan beragam ulah mulai dari mencuri kotak suara, memblokir perumahan bahkan hingga bunuh diri.

Ulah-ulah itu tercatat pasca Pileg 2014 lalu, seperti dikutip dari Antara berikut. Di antaranya, di Kabupaten Sampang seorang caleg atas nama Muhammad Taufiq (50) kecewa dan marah karena perolehan suaranya minim. Ia tiba-tiba mendatangi TPS saat petugas menghitung suara. Tanpa permisi, Taufiq langsung mengambil paksa sebuah kotak suara di TPS tersebut.

Lalu di Tulungagung, Jawa Timur seorang caleg menarik kembali sumbangan material untuk pembangunan sebuah mushola. Di Kolaka, Sulawesi Tenggara sebuah mushola disegel. Pasalnya, material adalah bantuan seorang caleg yang kecewa karena perolehan suaranya di luar harapan.

Lain lagi dengan kisah Witarsa, sehari pascapencoblosan Pileg 2014 ia dibawa anggota keluarganya ke sebuah padepokan di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Ia mengalami stres akibat perolehan suaranya sangat minim, sehingga gagal menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Padahal, modal yang dikeluarkannya sangat besar. Dia menjalani pengobatan di padepokan dengan cara dimandikan, lantas dibacakan ayat-ayat suci Al- Quran.

Yang paling mengenaskan adalah tindakan nekat yang dilakukan seorang ibu muda dengan inisial S yang gagal menjadi anggota legislatif. Anggota sebuah partai asal kota Banjar, Jawa Barat ini memilih bunuh diri saat dia tidak berhasil menjadi calon anggota dewan.

Wanita itu mencalonkan diri untuk Dapil I kota Banjar dengan nomor urut 8. Namun saat mengetahui dia gagal, depresi dan bisikan setan membuat S bunuh diri dan mayatnya ditemukan di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.

Ya ampun, semoga tidak kejadian lagi seperti itu di perhelatan Pileg 2019 kali ini ya, Gaess. (dari berbagai sumber)

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *