#FixzySukabumi: Bajingan Bertato Ular (Chapter 8): Menyatroni sarang Shadow

*The previous chapter: FixzySukabumi: Bajingan Bertato Ular (Chapter 7): Grace siap tempur

————————————————————————

Grace, wanita pembunuh bayaran paling ditakuti di New York mencari lelaki bertato ular yang telah membunuh adik dan ibunya. Dunia hitam New York dibuatnya kalang kabut, tak satu pun bajingan di kota berjuluk Big Apple itu lepas dari angkara murka bernama Grace.

————————————————————————

Mobil Van hitam melaju perlahan di jalan daerah pegunungan yang semakin menanjak. Grace, Brian, Kevin dan Alice berada di dalam mobil itu. Mereka sedang mempersiapkan strategi untuk misi pertama mereka. Mobil itu melaju semakin jauh, dan akhirnya, tibalah mereka di tempat tujuan. Grace terpaku melihat di mana mereka berada.

Guys, ini bercanda, kan?” Grace memandang sekelilingnya dari dalam mobil Van hitam yang mereka naiki. Mobil itu diparkir di tempat yang sedikit tersembunyi. Pohon-pohon pinus berjejer rapi, sementara tanaman semak tinggi yang merambat bergemerisik tertiup angin. Sebuah bangunan megah berdiri tegak di sana. New York Research Institut, tulisan itu terukir di tembok depan bangunan itu. Grace menggelengkan kepalanya.

“Wellcome to the jungle, baby,” Kevin tersenyum kecil. Brian terkekeh seraya membetulkan letak topinya.

“Jangan percaya apa yang kau lihat,” ucap Alice. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan,” kata Alice sambil menepuk pundak Grace yang terdiam tak percaya.

“Ini… Mengejutkan. Pusat riset ini sarang Shadow?” Grace menatap Alice yang terlihat sibuk mencari sesuatu.

“Bukan sarang, tetapi lebih menjurus pada… Apa ya yang cocok… Em, tempat singgah,” Brian yang berada di depan kemudi menggerakkan mulutnya ke samping.

“Apa maksudmu tempat singgah?” Grace menyipitkan matanya.

“Mereka datang kemari hanya untuk melapor, transfer dan pengambilan peralatan, mereka tidak menetap di sini. Nanti akan ada orang yang mengurus semua itu,” jelas Brian. “Aku sudah pernah masuk dan menyamar. Ada ruangan khusus di bawah gedung ini yang digunakan sebagai gudang senjata. Bukan itu saja, di bawah sana juga…” Brian tidak melanjutkan kata-katanya.

“Juga apa?” tanya Grace lagi.

“Tempat uji coba para mutan,” Alice menimpali dan menjawab singkat.

“Gila! Apa kau baru saja mengatakan mutan?” Grace terbelalak. Alice mengangguk pelan. Tangannya masih sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Kevin yang melihatnya langsung bertanya dengan kesal.

“Hey, Al! Sebenarnya apa yang kau cari?” Kevin menepuk lengan Alice pelan. Alice berhenti mencari.

“Aku kemarin memindai gedung ini, kau ingat? Aku menyimpan cetak birunya di tas ini. Tapi sepertinya, kertas itu hilang,” Alice menghela napas. Kevin tertawa keras, begitupun dengan Brian. Grace hanya terdiam tidak mengerti.

“Kau itu sudah mulai pikun ya? Bukankah kau meminta Brian untuk memindai setiap lapisan gedung ini dan memindahkan datanya ke laptop? Kau bahkan memintaku untuk membuat hologram tiga dimensinya untuk presentasi.” Kevin mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari dalam tas ranselnya yang digantung di kursi depan Van.

Alice menepuk keningnya. “Sial, aku lupa!” umpatnya pelan.

Grace tersenyum, lalu merangkul Alice dengan tangan kanannya. “Aku tahu kau gugup. Kau tidak sendiri, ingat? Aku yakin kita akan bisa melakukan ini bersama.” Grace melepaskan rangkulannya lalu meminta Kevin memperlihatkan hologramnya.

Sebuah tombol merah kecil ditekan Kevin. Alice mengambil laptopnya, lalu menyeting koneksi agar terhubung dengan boks hitam itu.

“Tunggu!” ucap Grace tiba-tiba. “Brian, aktifkan seal’! Kita tidak ingin ketahuan, bukan?” Grace mengangkat sebelah alisnya. Brian menekan sebuah tombol di dashboard mobil, terdengar suara getaran halus dari luar mobil.

Seal sendiri adalah teknologi yang digunakan untuk mengacaukan gelombang radar ataupun transmiter dalam radius tertentu. Sehingga keberadaan mereka tidak akan diketahui, terlebih jika ada teknologi yang menggunakan koneksi antar perangkat. Mereka membutuhkan seal agar tidak ada ‘intruder’ yang masuk ke dalam sistem mereka.

“Sudah. Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?” ucap Brian seraya memalingkan wajah pada Grace.

“Aku lupa,” ucap Grace sambil memainkan alisnya naik turun. Grace sesekali menatap perangkat serupa jam yang berada di pergelangan tangan kirinya, menekan beberapa tombol secara diam-diam, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Kevin menatap Grace sedikit lama, ia melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh anggota baru mereka itu karena tingkah lakunya yang sedikit mencurigakan. Tak lama, terdengar bunyi ‘click!’ dari laptop Alice.

BACA JUGA: #CerpenSukabumi: I have selulit, so what?

“Baik, sudah terhubung. Grace, coba kau lihat ini.” Alice menyalakan kotak kecil itu lagi. Lalu terlihatlah sebuah denah lengkap bangunan tiga dimensi.

Gedung itu ternyata memiliki lima lantai, dua lantai atas dan tiga lantai bawah. Dua lantai terbawah lebih terlihat seperti bunker, dengan banyak ruangan yang penuh dengan kabel-kabel dan mesin-mesin besar. Sementara satu lantai sepertinya merupakan ruang panel untuk listrik, gas dan air karena penuh dengan pipa besar dan kabel yang terhubung dengan saklar-saklar.

“Brian, kau bilang kau pernah masuk ke bawah sana dan melihat semua,” mata Grace tidak berkedip menatap denah gedung itu.

“Tidak semua. Hanya lantai dua saja. Lantai satu bawah itu adalah ruang panel. Dan satu lantai di bawahnya adalah tempat aku melihat penelitian yang tidak seharusnya dilakukan di dalam lembaga itu. Lantai itu saja sudah cukup membuat aku shock, entah apa lagi yang menungguku di lantai paling dasar.” Brian sambil beranjak dari kursinya dan pindah ke belakang untuk bergabung bersama ketiga rekannya. Ia duduk di sebelah Grace.

“Ini terlalu mudah,” ucap Grace pelan.

“Apa? Apa maksudmu ini terlalu mudah?” tanya Brian.

“Kalian bisa memindai gedung itu dengan gamblang. Apa kalian tidak curiga?” Mata Grace masih menatap denah itu dengan teliti. Kevin, Brian dan Alice saling menatap.

“Kami sudah pernah melakukannya dulu. Itu bukan hal yang sulit.” Alice menyipitkan matanya seraya memandangi Grace yang tetap tak bergeming. Grace dapat menangkap nada gugup dalam suara Alice.

“Iya, pemindai dari Einstein berfungsi cukup baik.” Brian mengelus dagunya yang berjenggot tipis, terlihat gesturnya yang menunjukkan bahwa Brian sedikit tidak tenang.

“Bahkan setelah kalian menyusup?” Kali ini Grace memandang ketiga rekannya dengan tajam. Alice dan Brian terdiam. Kevin menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan sedikit gugup.

“Mereka tahu kita akan kemari lagi,” ucap Kevin tiba-tiba. Tampak kecemasan yang mendalam di wajahnya. Alice terhenyak dan menggelengkan kepalanya. Brian mengangkat alisnya.

“Tapi bagaimana bisa?” ucapnya Alice tak percaya.

“Seperti yang Grace bilang, ini terlalu mudah,” jelas Kevin lagi. Ia mencondongkan tubuhnya. “Ini adalah Lembaga Penelitian, kalian ingat? Apa mungkin sebuah tempat penting seperti ini tidak memiliki sistem pertahanan apapun?” Matanya menatap ketiga rekannya dengan serius.

“Itu… Sepertinya kau benar.” Alice menunduk lemas. Brian terdiam dan menatap kosong udara dihadapannya.

“Aku yakin mereka sengaja mempermudah semuanya. Benar begitu, kan Grace? Mereka sudah menunggu kita?” Kevin menatap Grace yang mengangkat wajahnya perlahan. Grace tersenyum dingin. Matanya menatap dengan tajam.

“Bukankah itu bagus? Mereka sedang menunggu kita, kan? Mungkin tidak ada salahnya jika kita sedikit bersenang-senang di sini.”

Ucapan Grace disertai perubahan ekspresi yang menyeramkan. Sontak hal itu membuat Kevin, Brian dan Alice saling memandang satu sama lain. Mereka memandang Grace dengan wajah yang memucat.

 (To the next chapter)

Glyn

Glyn

Glyn lahir di Cicurug, 19 Agustus 1984. Ia tinggal di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, seorang ibu muda yang gaul, hobi menulis dan bikin cerpen. Glyn juga menjadi pendidik di kota tempat tinggalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *