Milangkala ke-2 dihadiri Kang Adjo, YDK Sukabumi tegaskan komitmen sinergi

Selain tasyakuran dalam rangka milangkala Kipahare yang ke-2, acara yang berlangsung di Resort Selabintana semakin meriah dengan dilangsungkannya halal bihalal oleh komunitas KUKIS.

Hai Gaess, hari Minggu kemarin (23 Juni) bertempat di Resort Selabintana, Yayasan Dapuran Kipahare (YDK) mengadakan tasyakuran untuk hari jadi atau milangkalanya yang ke-2. Walau dikemas dengan sederhana, kegiatan berlangsung dengan meriah salah satunya karena dibarengi dengan acara halal bihalal komunitas Kuliner Kipahare Sukabumi (KUKIS).

Kegiatan menjadi lebih istimewa karena kehadiran dua orang Chef dari Asosiasi Chef Indonesia (ACI) dan Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sardjono yang pada kesempatan itu didaulat untuk melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur kepada Allah SWT, atas perjalanan Kipahare yang sudah memasuki tahun ke-2.

Berikut lima catatan penting dari kegiatan milangkala Kipahare yang ke-2 tersebut. Untuk diketahui ya Gaess, Kipahare bekerja sama dengan sukabumiXYZ.com dalam mengkampanyekan dan memperjuangkan aktivitasnya melalui rubrik Kipahare yang dikelola khusus oleh penggawa Yayasan Dapuran Kipahare.

[1] Dua tahun perjalanan Yayasan Dapuran Kipahare (YDK)

YDK sendiri didirikan pada tanggal 21 Juni 2017 sebagai badan hukum yang menaungi beberapa lembaga, di antaranya Paguyuban Kipahare dan Museum Kipahare. Dalam akta pendirian YDK disebutkan bidang kerja yayasan di antaranya adalah sosial, budaya, kemanusiaan dan keagamaan.

Dalam kegiatan milangkala ke-2, ketua YDK Irman Firmansyah memberikan uraian perihal perjalanan YDK yang baru berumur 2 tahun. Bagi Irman, meski usianya masih bayi namun YDK sarat dengan kegiatan-kegiatan positif. Bahkan, YDK telah meraih penghargaan dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (Direktorat PCBM) dan IAAI (Ikatan Ahli Arkeolog Indonesia) sebagai komunitas yang aktif dalam pelestarian cagar budaya di wilayah Jawa barat dan Banten.

Kini, Paguyuban dan Museum Kipahare kembali berdiri sendiri, sementara YDK melanjutkan misinya sebagai payung hukum komunitas di berbagai bidang. Tanggal 26 Desember 2018 YDK melakukan perubahan susunan pengurus baru dengan maksud agar organisasi bias berjalan secara lebih profesional.

Saat ini ada enam lembaga di bawah Yayasan, yaitu Barbeque Kipahare, Reenactor Explore Kipahare (REK), Kuliner Kipahare Sukabumi (KUKIS), Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Pertanian Kipahare (Peterpan), Relawan Pelestari Cagar Budaya Kipahare (RPCB), dan Sosial Adventure Kipahare (SAK). Selanjutnya, pada 20 Januari 2019 didirikan pula Museum Barbeque Kipahare didirikan atas inisiatif Lembaga Barbeque Kipahare.

YDK dalam praktiknya terus membantu setiap lembaga dalam berkegiatan. Beberapa kegiatan lembaga yang sedang digarap adalah penyusunan buku Mengunjungi 100 Tempat Bersejarah di Kota Sukabumi”” yang dimotori REK. Selain itu juga persiapan Sukabumi Art Festival yang melibatkan Barbeque Kipahare dan program rutin bantuan sosial yang dimotori SAK.

[2] Mengutamakan kebermanfaatan dan pentingnya mengelola tempat kegiatan positif

YDK yang menggunakan lambang tangkal Kipahare ini mempunyai moto “Maju Babarengan Moal Pahare Hare.” Dengan demikian Kipahare menegaskan komitmen untuk memajukan seluruh anggota dan lembaga yang bernaung di bawah Yayasan. YDK sendiri tidak membatasi diri dalam lingkup dan wilayah kegiatan mengingat Yayasan ini bergerak secara nasional maupun lokal.

Dalam sambutannya, Ketua pembina YDK yang juga rektor STIE Sukabumi, Deni Asep menambahkan bahwa sikap egaliter harus menjadi ciri yayasan dan lembaganya. Setiap anggota terbuka dan tidak mempersoalkan jabatan, karier, latar belakang pendidikan dan lainnya. Sepanjang ia bisa berkontribusi secara positif kepada masyarakat, maka ia adalah bagian yang sangat berharga dari sebuah komunitas.

“Kebermanfaatan, menjadi hal utama yang harus menjadi perhatian sehingga ada add value (nilai tambah) dari setiap kegiatan dan komunitasnya,” kata Asep Deni. Yayasan dan lembaga Kipahare juga, tambah Asep, harus mampu mengelola sebuah tempat yang bisa dikembangkan untuk berkegiatan maupun berelasi dengan kepentingan lainnya seperti pariwisata dan bisnis.

Saat ini lembaga-lembaga sudah mulai membentuk konsentrasi kegiatan di Kota dan Kabupaten seperti pelatihan batik di Lokatmala jalan Kenari yang juga menjadi Kantor YDK, koordinasi kegiatan eksplorasi dan reka ulang di jalan Samsi dan Kompleks Perbata, serta koordinasi bisnis kuliner di Odeon jalan pelabuhan 2.

Sedangkan di wilayah Kabupaten  kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan dipusatkan di Pangleseran yang sedang mengelola pendederan ikan nila dan budidaya bonsai, untuk rencana rumah baca dan pusat riset di jalan baru Sukaraja, untuk pusat pelatihan seni, budaya dan kerajinan di Kampung Cilutung, Parakansalak, sedangkan koordinasi kegiatan sosial di Kecamatan Cidahu.

Editor’s Picks:

[3] Pemberdayaan masyarakat yang bersinergi dengan pariwisata lokal

Untuk ke depannya, YDK akan bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat lokal dalam mencari peluang-peluang kebermanfaatan. Salah satu rencana kegiatan YDK adalah mengangkat potensi masyarakat baik dari segi kesenian, budaya, ekonomi maupun pariwisata supaya bisa menjadi kegiatan yang sustainable bagi semua pihak.

Melalui rubrik Kipahare yang bekerja sama dengan media partner sukabumiXYZ.com, YDK juga terus berupaya mensosialisasikan semua potensi masyarakat serta komunitas-komunitas yang aktif bergerak sesuai bidangnya.

Pengawas YDK yang juga Kepala Bidang Pariwisata Kota Sukabumi, Yudi Justiawan menambahkan bahwa pemerintah akan mendukung setiap kegiatan komunitas. Dinas Pariwisata tidak akan membeda-bedakan komunitas di masyarakat sepanjang mempunyai misi positif bagi masyarakat lokal dan pemerintah.

“Hal yang harus diperhatikan adalah sinergitas yang terus dijaga dan selalu berkoordinasi dengan dinas yang berkaitan untuk setiap kegiatan,” kata Yudi.

Saat ini, YDK sudah berkolaborasi dalam beberapa kegiatan dengan berbagai komunitas lokal seperti Sukabumi Facebook, Soekaboemi Heritages, Kaki Daun, Ruang Peduli, Baboyat  dan lainnya. Diharapkan kerja sama ke depan bisa semakin erat dan makin banyak lagi bidang yang dikolaborasikan dan komunitas yang bekerja sama.

[4] Kekeluargaan dan kekompakan sebagai pengikat para anggota

Selain kemajuan bersama, kekeluargaan dan kekompakan juga menjadi pengikat jiwa seluruh anggota YDK. Untuk tujuan itu, Yayasan di antaranya coba menerapkan foundation culture atau budaya yayasan yang mempersatukan semua anggota seperti layaknya keluarga. Setiap persoalan selalu dibahas bersama dan dicari solusinya, sesama anggota tidak hanya sekedar teman tapi sudah merasa seperti saudara.

Budaya kekeluargaan ini tidak menganggu profesionalitas karena YDK mempunyai kode etik khusus yang sifatnya fokus kepada etos kerja dan tidak berafiliasi dengan kegiatan politik maupun SARA. Lembaga-lembaga juga merekrut kalangan milenial sebagai penerus generasi namun juga tetap menghormati para senior sebagai guru dan juga pembimbing dalam berkegiatan.

Salah satu misi YDK adalah melakukan transfer of knowledge dari para ahli dan para guru semua bidang kegiatan kepada para anggota khususnya kaum milenial. Hal ini menjadi sorotan dua orang Chef yang diundang dari Asosiasi Chef Indonesia (ACI), yaitu Chef Prayudhi dan Chef Anton yang diundang khusus dalam Halal Bihalal KUKIS.

Menurut Chef Yudi yang menjadi chef di Hotel Pangrango, kekompakan adalah modal utama dalam menyerap ilmu baik di bidang kuliner maupun bidang lainnya. Sementara Chef Anton yang menjadi chef di De Kebondjati menyebutkan pentingnya kebersamaan ini untuk bisa saling mengangkat satu sama lain.

[5] Diskusi ringan dengan Kang Adjo

Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono yang menghadiri pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur dalam kegiatan ini, mengagumi kekompakan berbagai komunitas yang bernaung di bawah YDK. Salah satu yang menjadi sorotan positif Kang Adjo adalah kegiatan YDK tidak ada sekat antara Kota dan Kabupaten.

Kang Adjo juga sempat melakukan diskusi ringan dengan para anggota dan mendiskusikan beberapa isu penting terkait pengembangan pariwisata. Menurutnya, saat ini memang sedang dibidik sektor pariwisata untuk mengembangkan wilayah kabupaten. Beberapa masukan dari YDK di antaranya usul untuk menjadikan Tembok Tjiboenar menjadi wisata heritages seperti di Jawa Tengah.

Adjo menyambut baik usul itu dan baginya konsep apapun untuk mengangkat potensi pariwisata pasti akan didukung oleh pemerintah. “Namun untuk area yang dikuasai masyarakat tentulah ada prosesnya. Yang paling penting dalam konsep pariwisata bukan sekadar bangunannya belaka, tetapi kisah sejarah di balik bangunan tersebut yang akan menarik perhatian pengunjung,”ujar Adjo.

Perihal pengembangan wisata dalam hubungan dengan kebermanfaatan ekonomi bagi masyarakat, Kang Adjo mencontohkan eksistensi Situgunung yang menarik minat yang luar bisa dari masyarakat. “Dalam musim liburan kemarin, yang datang sekira 5.000 hingga 7.000 pengunjung dalam sehari (ke Situgunung). Bayangkan, jika ada transit wisata di sepanjang jalan menuju Situgunung, tentu akan memperluas konsentrasi pengunjung dan juga distribusi potensi ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ujar Adjo.

Selain itu, secara khusus Kang Adjo mengapresiasi upaya REK yang sudah mengangkat sejarah Cibunar sebagai bagian dari sejarah tekstil nasional. Menurutnya, langkah tersebut menjadi modal jika hendak menjadikannya seperti heritages palace ataupun Tjolomadoe yang dilatarbelakangi sejarah pabrik gula. Untuk itu, ia berharap kegiatan YDK terus berlanjut dan ditingkatkan, serta bisa melakukan kerja sama dengan pemerintah ke depannya.

***

Nah demikian Gaess serba-serbi kegiatan Milangkala YDK yang ke-2. Di tengah keseruan acara yang diramaikan games dan door prize, tak lupa para anggota dan undangan mengumpulkan sumbangan dadakan yang diinisiasi SAK, terkumpul hampir 500 ribu rupiah. Dana tersebut lalu disumbangkan untuk kelengkapan masjid di Nagrak, Cibadak.

Bagi kalian yang tertarik bergabung dengan Kipahare dan ikut berkontrobusi positif terhadap Sukabumi melakukan kegiatan berbasis komunitas, silakan kontak melalui banyak alamat medsos ya Gaess!

Egi GP

Egi GP

Lahir di Sukabumi, 14 Mei 1978. Mantan Jurnalis Harian Merdeka, dan kini bekerja di PT Yudhistira Ghalia Indonesia sebagai editor. Ayah dua anak ini menamatkan pendidikannya di SMP Mardi Yuana Cicurug, SMA Negeri 3 Bogor, dan kuliah Jurusan English Literature di Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Untuk menyalurkan hobinya menulis, Egi menjadi kontributor di sukabumiXYZ.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *