Menelusuri catatan sejarah kampung para empu Sukabumi dari Begog Gaplok


Irman Sufi Firmansyah

Writed by: Irman Sufi Firmansyah
Editor by: Feryawi
17 Sep 2019 | 4:32 WIB


Warga sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Mereka juga mengenal perhiasan logam dan menggunakannya dalam upacara-upacara keagamaan.

Halo, Gaess, kalian pasti udah pada tau dong, ada banyak tempat di Sukabumi yang menjadi sentra industri logam. Bahkan, sebagian besar dari Gen XYZ Sukabumi mungkin juga sudah tau tempat produksi golok dan peralatan senjata tajam di Sukabumi adalah Cibatu, Kecamtan Cisaat.

Nah, Gengs, ternyata sebagian sumber bilah senjata tersebut berasal dari sebuah kampung yang sudah sangat lama memproduksi peralatan senjata tajam. Ya, Kampung Cirangkong.

Bahan dasar bilah-bilah senjata tajamnya adalah dari logam jenis besi dan baja yang juga bisa dijadikan pamor.

Sekarang, kita simak kuy, bagaimana sih proses produksi senjata tajam di Kampung Cirangkong ini.

[1] Mengolah logam sejak zaman Perunggu

Perkembangan pengolahan logam di tatar Sukabumi sebenarnya diawali dengan dominasi peralatan berbahan perunggu, karena alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit. Pada masa itu, sekira 500 SM, pola pikir masyarakat sudah terbilang maju namun belum mengenal huruf.

Kala itu, mencari makanan dan bercocok tanaman sudah mengenal cara-cara modern, walaupun belum ada traktor. Namun, rumah-rumah sudah permanen, dan warganya sudah bisa membuat perkakas sehari-hari dari besi dan tembaga.

Pola hidup masyarakat kini semakin maju, keberadaan para pandai besi yang dianggap penting meskipun pertanian tetap sebagai mata pencaharian utama. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi perkakas yang diinginkan. Mereka juga mengenal perhiasan logam dan menggunakan logam dalam upacara-upacara keagamaan.

Bukti-bukti masa logam yang ditemukan di wilayah Sukabumi di antaranya temuan tiga buah kapak perunggu di daerah Munjul Cibadak, bersama sebuah kepingan periuk belanga pada 1871 oleh Mr. J.G. Huisjer. Analisanya menyebutkan bahwa kapak tersebut berasal dari era Hindu atau bahkan lebih tua lagi.

Kemudian dalam catatan NJ Krom, di Kota Sukabumi ditemukan sebuah patung perunggu Amoghapaca dengan prasasti dari raja Kartanegara dan sebuah gagang cermin berisi prasasti, benda-benda ini dimiliki Dr. Widerhold, penduduk Sukabumi yang pernah tinggal di Surabaya.

Di Kampung Bojong pun ditemukan tiga belas kapak perunggu dan sebuah hiasan dada di Kampug Bojong Kidul, dan tujuh belas diantaranya telah disimpan di Museum Leiden, sisanya di Museum Jakarta. Jenisnya mulai beragam, misalnya di Sinagar ditemukan dua lonceng perunggu, dua cermin dan sebuah piring logam, disimpan di Museum Pusat Jakarta.

Kemudian di Pasir Salam juga ditemukan perhiasan telinga dari emas dari dalam tanah, sekarang berada di Museum Pusat Jakarta. Selain itu, di Gegerbitung, sebuah kalung emas dan sekumpulan cincin emas, gunjai, dan sebentuk cincin, diketemukan di Kampung Nangkabeurit, juga disimpan di Museum Pusat Jakarta.

[2] Warisan para Empu

Saat berkembang sistem kerajaan, pengolahan logam tidak hanya menyediakan barang keperluan sehari hari seperti pisau dan golok, namun juga persenjataan resmi kerajaan seperti halnya Kujang. Dalam sejarah Sunda sendiri dikenal para empu ahli pembuatan senjata, sementara pandai besi sudah berkembang di tatar Sunda sejak zaman pengolahan besi.

Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Kujang dibuat atas prakarsa Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang yang dimanifestasikan dalam bentuk Kujang oleh Empu Supa.

Meski belum jelas kebenaran sumber ini, namun dalam cerita Betawi juga dikenal konsep senjata sebelum Kujang berkembang yaitu Golok Betok. Konon pembuatan Golok Betok tertunda Namun, karena Kerajaan Padjajaran memohon kepada sang Empu agar dibuatkan secepatnya sebuah senjata bernama kujang.

Nampaknya hubungan kujang dan golok tersebut berkaitan mengingat pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda melalui fungsinya sebagai peralatan pertanian. Fakta ini ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah.

Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi. Seiring perkembangan, Kujang ini menjadi senjata tradisional yang bernilai magis bagi sebagian masyarakat, dan golok tetap pada tempatnya sebagai alat bantu dalam kehidupan sehari-hari termasuk alat pertahanan diri.

editor’s picks:

Wisma Wisnuwardani Sukabumi dan kisah tragis sang notaris

Meluruskan benang kusut sejarah Hiroshima 2 di Sukabumi

Memahami ideologi politik serikat buruh di Sukabumi pasca kemerdekaan

[3] Sudah ada sejak lama

Kampung Cirangkong yang terletak di Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, lokasinya lebih mudah dijangkau dari Cibeureum melalui Jalan Lingkar Selatan arah Terminal Sukaraja. Sebuah jalan kecil yang sebagian berbatu menuruni perbatasan Kecamatan Sukaraja dan Kebonpedes yang tak jauh dari lokasi Kampung Cirangkong.

Entah sejak kapan awal mula produksi peralatan pandai besi di Cirangkong ini. Namun, menurut pandai besi tertua di kampung para empu tersebut, Maman Oking, jika kakeknya dahulu merupakan seorang pandai besi yang juga belajar menjadi pandai dari kakeknya lagi.

Oiya, Gengs, kata Rangkong berasal dari nama jenis burung yang sekarang sudah sangat langka. Dan kini nama Rangkong disematkan pada sejenis Kujang yang bentuknya mirip sabit, yaitu Kujang Rangkong. Adapun ciri khas bilah golok dari Cirangkong adalah Begog Gaplok yang bentuknya lebar seperti golok untuk penjual daging.

Dalam laporan Consultantie Bureau mengenai Georganiseerde Volksssmederijen op Soekaboemi, terdapat salah satu golok khas Cirangkong yang dipajangkan dalam sebuah foto bertahun 1920. Sedangkan nama-nama yang terkenal sebagai pandai besi Cirangkong dimasa lalu diantaranya Aki Toip, Ki Dai, Pa Jua, dll. Konon, pandai besi pada masa itu memiliki banyak kelebihan seperti mampu menyepuh (mendinginkan besi yang membara dengan air) cukup dengan dipaut (diusap) tangan.

So‘, gak heran ya Gaess, jika profesi pandai besi merupakan mata pencaharian masyarakat setempat secara turun temurun. Dimulai dari sekadar membantu orang tua hingga akhirnya bisa membuka usaha sendiri.

Peralatan yang digunakan pun masih cukup tradisional, di dalam bengkel yang biasa disebut gosali, terdapat sebuah alat bernama ububan yang berfungsi sebagai pemanas besi sebelum ditempa, dengan tambahan baling-baling yang berfungsi sebagai kipas untuk menjaga bara api tetap menyala.

[4] Pernah diawasi

Profesi pandai besi dan usaha pengolahan logam ini pernah mengalami pasang surut dalam sejarah Sukabumi. Pada masa Belanda misalnya, sempat dipesan sebilah golok khusus berlabel Capellen, dengan di belakangnya terdapat pahatan Tjiandjoer 1824 milik adik dari Gubernur Jendral Hindia Belanda Van Der Capellen (816-1826), bernama Robert Van Der Capellen.

Robert pada saat itu tinggal di Cianjur, dan menjabat sebagai Residen Priangan. Bahkan, pelukis terkenal raden Saleh sempat tinggal di rumah Robert dan membantu pekerjaannya di Cianjur dan Sukabumi.

Golok lainnya, bertulisken C.L Blume, saat itu Direktur/Kepala Botanical Garden Bogor. Belum diketahui di mana golok dibuat, namun dimungkinkan juga dibuat di Cirangkong atau di tempat lain mengingat saat itu wilayah Sukabumi merupakan bagian dari Cianjur.

Pada masa Hindia Belanda, produksi pandai besi di Sukabumi lebih difokus pada produksi peralatan pertukangan, rumah tangga, dan keperluan pertanian karena dikuatirkan akan disalahgunakan untuk memberontak.

Pada era pendudukan Jepang, surat kabar Domei memberitakan pesanan khusus sebanyak 250 bilah pedang ke Pandai Besi Cibatu yang sumbernya di antaranya dari Cirangkong. Jepang bahkan membuat semacam koperasi bernama Badan Pertoekangan Indonesia Tjibatoe Soekaboemi yang disingkat Poepits dengan pesanan awal senilai 1.200 Gulden. Sayangnya, kepopuleran Cirangkong tenggelam dalam bayang-bayang Cibatu yang lebih dikenal hingga kini.

Padahal, faktanya sentra senjata dari Cirangkong memang diakui, bahkan pada zaman pemberontakan DI/TII, sentra industri logam di Cirangkong termasuk wilayah yang diawasi pihak keamanan karena kuatir disalahgunakan untuk senjata para gerombolan. Bahkan, beberapa kasus korban penyembelihan para pemberontak DI/TII ditengarai menggunakan golok yang berasal dari Cirangkong.

Sementara di zaman Gestapu, beberapa warga Cirangkong ditangkap karena dianggap menyuplai senjata tajam untuk anggota partai, walauapun fakta yang terjadi adalah aksi jual beli biasa.

[5] Kondisi produksi saat ini

Meskipun Cirangkong sejak dulu dikenal sebagai daerah bersejarah bagi para pandai besi di Sukabumi, namun hingga kini Cibatu masih menutupi berpijarnya Cirangkong. Hingga kini, para pandai besi di Cirangkong belum pernah membuat cap pada hasil produksinya, bahkan untuk motif ukiran harus dikerjakan di Cibatu. Hal ini karena para empu di Cirangkong belum bisa memasarkan sendiri hasil karyanya ke luar daerah.

Padahal, produksi karya para empu Cirangkong sudah sampai di luar negeri seperti Malaysia, dan beberapa negara Eropa hingga Amerika yang dipasarkan secara online. Sebenarnya pernah ada koperasi khusus usaha pandai besi namun tidak berjalan, akhirnya usaha pandai besi Cirangkong masih belum berkembang dan kesulitan memasarkan produknya.

Produksi yang hingga sekarang masih berjalan di antaranya alat pertukangan dan pertanian yang diproduksi dalam jumlah besar ke pasar, kemudian senjata tajam yang dipasarkan di Cibatu, serta senjata hiasan untuk koleksi yang dipasarkan secara online oleh pihak kedua. Khusus untuk koleksi, seperti golok dengan pamor, hanya diproduksi oleh satu gosali yang dikelola pemuda bernama Hendrik dan Agus.

Di sisi lain, sebenarnya perubahan zaman merubah beberapa peralatan seperti kipas dan alat asah yang dulu dilakukan secara manual, sekarang sudah menggunakan listrik, sejak aliran listrik masuk kampung tersebut semenjak tahun 1980-an.

Salah satu kelebihan para empu Cirangkong adalah keahlian menyipuh yang belum bisa diikuti produsen asal Cibatu, sehingga pandai besi Cirangkong menjadi andalan. Sedangkan Cibatu sendiri saat ini lebih banyak hanya membuat peralatan dari bahan per, dan kebanyakan hanya untuk hiasan atau alat tukang biasa. Sayangnya, kondisi tersebut tergerus serbuan perkakas dari Bandung yang lebih modern.

Para empu Bandung sendiri kini sudah menggunakan mesin Hammer yang bisa memproduksi 60-80 bilah senjata tajam hanya oleh satu orang saja. Padahal, jika dilakukan secara manual, maksimal hanya sepuluh bilah saja per hari per orang. Selain itu, proses pembakaran pun sudah menggunakan semawar. Sedangkan di Cirangkong, proses pembakaran masih menggunakan cara tradisional dengan bara arang, sehingga lama-lama besi bisa hancur jika terkena arang hitam.

Wah, sangat disayangkan ya Gaess, padahal hasil produksi empu Cirangkong kualitasnya sangat baik, selain bisa membuat baja pamor, juga mampu memproduksi pisau yang bisa memotong paku. Sudah seharusnya mereka mendapat perhatian serius pemerintah daerah.

Karenanya, Yayasan Dapuran Kipahare berencana mengundang para empu untuk memamerkan golok-goloknya di Pameran dan Festival Soekaboemi Tempo Doeloe yang digelar pada 5-6 Oktober 2019. Selain itu, sebagian golok juga yang berasal dari Cibatu dan daerah lain, rencananya akan turut dipamerkan.

So’, jangan lupa datang ya Gaess, biar bisa menyaksikan beragam jenis golok khas Sukabumi yang bersejarah.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *