Gutta Percha Tjipetir, keping masa silam Sukabumi di samudera sejarah dunia

Meskipun kehebohannya sudah berakhir, tetapi Pabrik Gutta Percha Tjipetir di Sukabumi hingga kini masih menyisakan rasa penasaran banyak wisatawan.

Penemuan kepingan karet bertuliskan TJIPETIR yang terapung di pesisir pantai Eropa dan Amerika begitu menghebohkan jagad pemberitaan media nasional dan internsional. Menghebohkan, mengingat keberadaan pabriknya sendiri belum banyak terkuak. Namun, sayangnya, Gengs, pabrik dan perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII tersebut sudah berhenti beroperasi beberapa tahun lalu. Baca: TJIPETIR dari Sukabumi yang hebohkan Eropa, tenggelam bersama Miyazaki Maru dan Titanic

Sangat memprihatinkan ya, Gaess, Pabrik Gutta Percha tersebut kondisinya kini cukup mengkhawatirkan karena banyaknya perlengkapan pabrik yang sudah hilang entah kemana. Demikian temuan Yayasan Dapuran Kipahare saat memandu kunjungan Vakansinesia Tour, Sabtu (15/10/2018) lalu menguak tabir kisah seputar keberadaan Pabrik Tjipetir di Kecamatan Cikidang yang belum banyak diketahui khalayak banyak ini.

Penasaran dengan kisahnya, Gaess? Kita simak kuy lima catatannya.

[1] Satu-satunya Pabrik Gutta Percha di Hindia Belanda

Gutta Percha (palaquium gutta/gutta merah) merupakan pohon yang menghasilkan karet dan digunakan oleh orang-orang Melayu sejak dulu. Gutta Percha berbeda dengan karet yang disebut orang Belanda dengan caoutchouc atau pohon menangis karena mengeluarkan getah mirip cucuran air mata. Sedangkan gutta percha yang baru diketahui orang Eropa di Singapura pada 1822, diambil daun dan rantingnya.

William Montgomery, seorang pejabat di East Indies Company melakukan penelitian tentang gutta percha yang banyak berkembang di kepulauan Melayu seperti Sumatera dan Kalimantan. Pasca dikenalkan oleh Montgomery pada 1843, mulailah kebutuhan gutta percha ini berkembang pesat yang menyebabkan penebangan secara massal. Penguasa Belanda di Hindia Belanda pun mulai mencoba menanam gutta percha dalam skala kecil di Banyumas, Jawa Tengah, meskipun belum bisa dibilang berhasil.

Perhatian dunia ilmiah dan teknis pertama kali pada gutta-percha terjadi sesudah Kongres Listrik di Paris pada 1881. Tak mau ketinggalan dengan jirannya, Hindia Belanda melakukan investigasi melalui Dr. Burck yang menyimpulkan bahwa gutta percha terbaik terdapat di kepulauan Melayu hingga ke Malaka. Jenis ini tidak ditemukan di tempat lain bahkan di Amerika maupun Afrika sekalipun, sehingga Hindia Belanda merasa harus membudidayakannya.

Permintaan gutta percha saat itu meningkat tajam, terutama dari Amerika, Jerman dan Perancis. Sultan Johor dari negeri jiran, bahkan sampai menjanjikan satu dolar untuk setiap satu benih gutta percha yang bisa tumbuh. Selain itu, di Kulalalumpur, Melaka, Singapura, dan Wellesley (seberang Penang) diusahakan pembudidayaan massal gutta percha, namun belum memuaskan.

Kuatir kehilangan kesempatan, melalui Dr Treub, dilakukanlah upaya pembudidayaan di Hindia Belanda yang sedikit sulit mengingat gutta percha tumbuh puluhan tahun dan hanya bisa cepat besar jika tumbuh di semak belukar. Ujicoba dalam skala besarpun dilakukan di Cikeumeuh dan Cipetir (Kabupaten Sukabumi) pada 1885. Hasil dari kebun percobaan di Cipetir ini cukup memuaskan meskipun dilakukan dengan sangat rahasia.

Pada 1901, Hindia Belanda terus menyempurnakan hasil penelitian Gutta Percha Tjipetir, dibantu pengelolaannya oleh Direktur dari Perusahaan Karet Langsa (Aceh), Tromp De Haas, seorang mantan perwira KNIL. Lahan kebun kemudian diperluas menjadi 1.000 hektar pada 1906, dan bertambah lagi menjadi 1.322 hektar, dengan menambah lahan di daerah Giriawas dan Panjindangan (sekarang Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi).

Pengiriman mulai dilakukan dari Cipetir ke luar negeri sebagai produk mentah yang sangat laris. Perusahaan milik negara Gutta Percha Tjipetir adalah satu-satunya produsen kepingan gutta-percha di Hindia Belanda.

[2] Perselisihan paten dan mangkraknya pembangunan pabrik

Tjipetir terus mendapat perhatian, pada 1911, Tjipetir bahkan dijadikan sebagai Stasiun Pengamatan Cuaca modern. Pendirian pabrik karet skala modern di Tjipetir dilakukan sejak 1912 dengan anggaran diajukan sebesar 75.000 Netherland Gulden (NLG). Sayangnya, anggaran sebesar itu ditolak pihak Kamar Dagang Belanda. Pada 1913, Direktur Perusahaan Gutta Pertjah Tjipetir, Dr. WR Tromp de Haas, yang juga bekerja di Departemen Landbouw, mengajukan kredit ke pemerintah untuk peningkatan kapasitas Pabrik Gutta Percha di Tjipetir.

Proposal diajukan untuk mendapatkan beberapa mesin baru senilai 100.000 NLG, mengingat fasilitas mesin yang ada sudah tidak layak pakai. Lagi-lagi, tepat pada 27 November 1914, permohonan kredit tersebut ditolak, sehingga pembaharuan pabrik kembali mandeg.

Di saat sama, Tromp de Haas juga mengajukan permohonan paten atas merek Gutta Pertja Tjipetir. Namun, pengajuan paten ini mendapat penentangan dari Dutch Gutta Percha Mij yang sudah berdiri sejak 1845 di Den Haag sehingga menjadi sengketa yang berpanjangan. Selain merek dagang, Haas juga bermaksud mematenkan proses pengolahan Gutta Percha Tjipetir yang dinilai sebagai cara baru dalam mengolah gutta percha.

Upaya pertama memisahkan getah percha secara mekanis dari daunnya dilakukan di Singapura oleh Arnaud. Setelah itu, Dr. Ledeboér menemukan cara pemrosesan lebih baik dengan menggunakan bahan kimia. Proses tersebut juga dilakukan di Hindia Belanda melalui pabrik kecil di kepulauan Riau dan kemudian di pabrik lebih besar yaitu Gutta Percha Maatschappij Singapura. Namun secara modern Tjipetir melakukannya dengan lebih sempurna sehingga hasilnya lebih berkualitas.

Sayangnya, keputusan memenangkan Dutch Gutta Percha Mij sehingga sengketa ini menyebabkan kucuran dana pembangunan Pabrik Tjipetir menjadi terhambat. Baru pada 1921 pabrik modern bisa diselesaikan oleh administrator baru yaitu Van Lennep. Pabrik bisa dikatakan besar karena dibuat hingga tiga tingkat, dengan dilengkapi laboratorium.

Kelengkapan terus dilakukan, seperti membangun jalur kereta gantung untuk distribusi hasil panen daun gutta pertja ke pabrik. Sementara proses terus diperbaiki di laboratorium Tjipetir sehingga tahun 1940, menurut sang Administratur di Drechsler, Tjipetir menjadi satu-satunya perusahaan Gutta Percha di dunia yang memurnikan proses kelembaban daunnya.

editor’s picks:

5 cerita menarik hingga menyedihkan di Situ Batu Karut Sukabumi

Menggali serpihan sejarah Pabrik Teh Goalpara Sukabumi yang terbakar

Tjikasintoe, mengeksplorasi mitos dan kisah heroik di Cidadap Sukabumi

[3] Dikunjungi Raja Siam dan Gubernur Jenderal

Perkebunan Tjipetir menjadi daya tarik tersendiri bagi para pegunjung, tak terkecuali Gubernur Jenderal AWF Idenburg pada 4 Desember 1912. Sang gubernur jenderal berkunjung bersama rombongan, empat mobil ke Tjipetir, sekaligus mengunjungi Teluk Wijnkoops (Pelabuhanratu). Mereka disambut Administratur Pabrik, Tromp De Haas dan para staf.

Penyambutan sepanjang perjalanan, dari Cibadak hingga lokasi pabrik, cukup mengesankan bagi Idenburg karena disambut anak-anak lengkap dengan bendera-bendera kertas yang dibawanya. Selain itu, para pejabat juga seringkali mengunjungi Tjipetir, seperti JG Hoskman (Direktur Pertanian) dan de Vries (warga Preanger Barat) yang disambut Kepala Administratur, van Lennep, pada 20 Maret 1926.

Bahkan, sakin tersohornya, Pabrik Tjipetir sempat dikunjungi Raja dan Ratu Siam (Thailand), Raja Prajatipok Paramintara atau Rama VII dan Ratu Siam Ramphaiphanni yang melakukan napak tilas sang kakek (Rama V/Cuhalangkorn) yang sempat mengunjungi Sukabumi pada 20 Juni 1896. Prajatipok Paramintara dan Ramphaiphanni berangkat dari Bogor pada pagi hari, 10 Agustus 1929, dan tiba di Tjipetir sekira pukul 09.30 WIB. Usai mengunjungi kebun ditemani Direktur Pertanian dan manajemen Tjipetir, rombongan kembali bertolak ke Bogor pukul 10.30 WIB. Rama VII merupakan Raja Siam terakhir sekaligus raja pertama yang mengundurkan diri dari kekuasaannya yang absolut.

Sebelum masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada Oktober 1940, Pabrik Gutta Percha Tjipetir sempat dikunjungi perwakilan perusahaan di bawah pengawasan Mr. H. J. van Holst Pellekaan. Rombongan disambut H. Carbasius, pimpinan Perusahaan Pemerintah Guttapercha Tjipetir dan membawanya berkeliling untuk melihat proses pengolahan gutta percha.

Pada tahun yang sama, produksi gutta percha mulai menurun akibat perkembangan radio yang tak lagi membutuhkan kabel bawah laut. Namun demikian, guta percha masih diperlukan industri lain seperti untuk olah raga golf dan keperluan pembuatan peralatan medis. Penggunaan gutta-percha sebagai pelapis kabel bawah laut kemudian benar-benar tergantikan oleh polyethylene yang mulai diperkenalkan pada 1930-an.

Pada masa keemasannya, Perusahaan Gutta Percha Tjipetir telah menanam di lahan seluas 1.400 hektar, dan sekira 1.000 hektar pohon karet.

[4] Menguak kisah-kisah unik masyarakat tentang Pabrik Tjipetir

Banyak kisah-kisah unik berkembang di mayarakat tentang Pabrik Gutta Percha. Paling ramai diperbincangkan adalah batu granit seberat empat ton yang didatangkan dari Italia melalui Batavia. Anehnya, dua batu tidak bisa ditarik kuda saat melewati jalan masuk dari Cibadak. Upaya membawa batu ini berhasil setelah diiringi tarian ronggeng. Dari lima pasang yang tersedia, batu bernomor 4 sekarang tidak lagi digunakan karena hanya diefektifkan dua pasang saja.

Kisah ini memang belum jelas kebenarannya, namun keberadaan gamelan dengan ronggeng di Pabrik Gutta Percha memang sudah ada, bahkan sebelum pabrik gutta percha tersebut berdiri. Gamelan dan ronggeng biasa diperuntukkan sebagai hiburan bagi para pekerja saat malam libur. Bahkan, pada Januari 1905, polisi sempat dibuat sibuk karena peralatan gamlean tersebut hilang akibat disikat maling.

Selain itu, ada kisah misterius di kamar mati atau kamar tempat turbin/generator, yang konon siapapun masuk ke kamar tersebut akan mati. Kisah ini diawali setelah peristiwa meninggalnya seorang Belanda yang sedang mencampur adonan gutta percha. Dari penelusuran penulis, peristiwa kematian tersebut terjadi pada 17 Desember 1925, di mana seorang Eropa bernama Hillebrand dan dua pekerja lokal tewas akibat kecelakaan kerja.

Kisah lainnya, konon sering muncul arwah orang dan noni Belanda di sekitar mesin penggiling, dan kisah cinta terlarang antara seorang Belanda dengan penduduk lokal. Kisah ini dituturkan Heru Wahyudi, seorang pegiat komunitas I Love Sukabumi. Kisah-kisah tersebut menjadi buah bibir masyarakat setempat dan sering diceritakan kepada para pengunjung.

Namun, Gengs, tentu saja kisah-kisah yang berkembang kebanyakan belum bisa dipastikan kebenarannya, meskipun faktanya Pabrik Gutta Percha Tjipetir terus berproduksi sesuai kebutuhan dunia. Hingga pada saat Jepang masuk, pabrik ini tetap berproduksi utuk menunjang kebutuhan perang pasukan Jepang, terutama sebagai bahan gibs dan peralatan medis.

Dalam buku Sang Merah Putih: Pengalaman 1942-1961, A.E Kawilarang menuliskan kisahnya saat bersembunyi dari kejaran jepang di perkebunan Tjipetir. Kala itu, dia disambut keluarga John Meray yang bekerja di Pabrik Tjipetir sebelum kemudian menetap di Pasir Rarangan.

Pasca Kemerdekaan Indonesia, pabrik ini sempat menjadi basis para pejuang pimpinan Komandan Batalyon I Mayor Yahya Bahram Rangkuti. Pabrik ini juga sempat dibumihanguskan para pejuang pada 1947, saat Belanda melakukan agresi militer. Pasukan Belanda tiba 30 Juli 1947 ke Tjipetir, atau tiga hari sejak agresi ke Sukabumi.

Tahun 1948, Pabrik Tjpetir sempat diserang para pejuang. Meskipun sebagian bangunan pabrik sudah menjadi puing dan hanya tersisa rangkanya saja, namun sebagian bangunan masih utuh. Kondisi tersebut cukup menyulitkan bagi sekira 500 pegawai yang bekerja dua shift, pagi dan siang.

[5] Wisata Heritages sebagai jawaban kekhawatiran

Sesudah perang usai, tahun 1951, Pabrik Gutta Percha Tjipetir masih diperbaiki dan diusahakan untuk tetap beroperasi. Dalam sebuah wawancara, Ir. Saksono, seorang pejabat Kementerian Pertanian menyatakan bahwa gutta percha adalah sesuatu yang unik untuk Asia Tenggara dan produksinya masih langka. “Pabrik Tjipetir adalah satu-satunya pabrik sejenis di seluruh Asia Selatan dan dioperasikan oleh 21 orang Indonesia dan sepuluh berkebangsaan Belanda,” tuturnya.

Pada 1952, pemerintah mengelola langsung Pabrik Tjipetir dan memproduksi Mealorub (sejenis tepung karet untuk pelapisan jalan aspal). Sayangnya, munculnya gerombolan DI/TII di Sukabumi sedikit banyak mengganggu proses produksi gutta percha. Untungnya, berkat aksi militer pasukan Siliwangi, pentolan DI/TII di Tjipetir di antaranya panglima DI/TII KW-7 Haji Zainal Abidin beserta rekannya Sjarief Hidajat akhirnya menyerah.

Hingga 1965, gutta percha ini hanya diproduksi untuk bahan pembuatan barang mewah dan peralatan medis saja. Wajar, jika saat ini kondisi Pabrik Gutta Percha Tjipetir seperti terapung di tengah samudera tanpa tentu arah. Produksi hanya mengandalkan order yang tidak tentu kapasitasnya. Budi, Kepala Bagian Gutta Percha menyebutkan, order rata-rata dari Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Skotlandia, hanya untuk keperluan medis, seperti pengisian saluran akar gigi dan campuran pengganti tulang, atau pelapis luar bola golf.

Menurut Ketua Serikat Pekerja di Kebun Sukamaju yang juga mandor kebun, Endang alias Robert, alangkah lebih baiknya jika ada upaya untuk menjadikan Pabrik Gutta Percha Tjipetir tersebut sebagai objek wisata sejarah. “Akan lebih bermanfaat untuk dunia pendidikan kesejarahan, agar kelak anak cucu kita tahu bahwa di daerah ini berdiri sebuah pabrik legendaris yang terkenal hingga daratan Eropa dan Amerika.”

Endang menambahkan, upaya itu bisa dilakukan melalui sinergi pihak Pemda Kabupaten Sukabumi dan pegiat serta pelaku usaha pariwisata. “Banyak manfaat akan didapat terutama bagi masyarakat, seperti dengan membangun rest area di sekitar Cipetir. Upaya ini sejalan dengan program pemerintah yang akan mejadikan Kecamatan Cikidang sebagai Kawasan Ekonomi khusus,” ujar Endang lebih lanjut.

Duh, sepertinya memang perlu perhatian bersama ya, Gaess, terutama dari pemerintah supaya Pabrik Gutta Tjipetir bisa terjaga keberadaannya, sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah di Sukabumi. Perlu perbaikan pabrik dan mengadakan kembali kelengkapannya, selain itu juga infrastruktur seperti akses jalan menuju lokasi pabrik juga perlu diperbaiki dan dibuat area wisata heritages dengan dibuatkan museum perkebunan dilengkapi berbagai penunjang.

Pabrik Gula saja bisa jadi tempat wisata yang menarik kunjungan wisatawan, kenapa Pabrik Gutta Percha tidak bisa?

Ayo bagi yang mau berinvestasi di sini segera ajukan. BTW, jangan lupa libatkan komunitas lokal.

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *