Wanita Sukabumi (Part 3): Pejuang tomboy yang hilang hingga the power of emak-emak masa penjajahan

Roos, wanita tomboy yang garang dan bertugas mengawal pengiriman makanan.

Gengs, bagaimana menurutmu setelah membaca tulisan ihwal keteguhan hati dan kesetiaan Wanita Sukabumi (Part 1) Dari Nyi Pudak Arum hingga feodalisme yang mereduksi marwah wanita? Atau ketangguhan dan kisah heroisme Wanita Sukabumi pada tulisan Part 2, Dari objek seksisme hingga kisah hebat yang disembunyikan. Semua kesimpulan tentu kembali kepada persepsi masing-masing ya, Gaess.

Nah, pada tulisan Wanita Sukabumi (Part 3) kali ini, sukabumiXYZ.com menampilkan keberanian dan kisah heroik kaum Hawa Sukabumi pada masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ternyata nih, Gengs, perjuangan merebut kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh kaum pria Sukabumi. Kaum wanitapun turut berjuang dengan keberanian yang luar biasa.

Mungkin kita sudah tahu mengenai para pahlawan dan pejuang wanita dalam perjuangan nasional, namun pastinya di antara kita ada yang belum tahu mengenai peran Wanita Sukabumi dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Simak yuk bagaimana lima catatatn peran Wanita Sukabumi dalam merebut kemerdekaan, yang layak kita kenang dan teladani.

1. Politik etis melahirkan wanita-wanita tangguh yang mengharumkan nama Sukabumi

Tidak bisa disangkal bahwa politis etis selain melahirkan kelompok menengah terdidik, juga melahirkan para pejuang wanita yang cerdas dan pemberani. Namun, sesungguhnya jauh sebelum politik etis lahir, wanita kita sudah mempunyai peran signifikan dalam perjuangan bangsa seperti Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, dan banyak lagi lainnya.

Kota Sukabumi di masa lalu merupakan melting pot yang meleburkan berbagai suku bangsa, dan tentunya termasuk gender. Banyak wanita Sukabumi yang dulu berperan dalam mengangkat nama daerah seperti Beb Vujk, seorang guru di SOG yang juga sahabat Syahrir.

Ada juga nama Anita Rambonnet, istri Burgemeester pertama yang seorang seniman, Anda Kerkhoven dari Panumbangan, Jampang Tengah yang berjuang di Eropa dan ditembak mati tentara NAZI Jerman, ada putri patih Maridja yang dikenal oleh Clock Brousenner, istri bupati yang sering disebutkan dalam kegiatan-kegiatan resmi dan lain sebagainya.

Bahkan para wanita yang sempat tinggal di Sukabumi seperti Marie Cramer seorang ilustrator, dan Erica Tepstra perenang Belanda peraih Medali Emas Olimpiade 1964 di Tokyo, Jepang, yang rajin berlatih di Kolam Renang Prana.

BACA JUGA:

Ini dia 5 tokoh olah raga dari Sukabumi, dari wasit FIFA, sniper, hingga Zorro

Transformasi lambang Kota Sukabumi dari era Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka

2. Peran wanita Sukabumi saat perebutan kekuasaan

Dalam kegentingan perebutan kekuasaan di Kota Sukabumi, peran kaum wanitanya juga tidak kalah penting. Mereka berbaur, turut mengobarkan semangat kemerdekaan, menyebarkan pamflet Freedom For Indonesia di gerbong kereta api (KA), hingga membuat coretan dinding bangunan dengan tulisan penggugah semangat melawan penjajahan.

Peran penting para wanita Sukabumi ini sangat mencolok, misalnya saat terjadi perang konvoi yang menimbulkan banyak korban. Para juga wanita mendirikan dapur umum, P3K, dan men-supply kebutuhan makanan para pejuang, seperti saat pelatihan tentara nasional di Wanasari oleh seorang desersir tentara Jepang bernama Shiroy dan Wakayama, keduanya kemudian menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Karta dan Soma.

Di antara yang berperan penting pada masa itu adalah Mien Adi Hatmodjo, istri dari Direktur Tambang Mas Cikotok, Banten. Ada juga nama Zus Hafni, istri dari Direktur Rumah Sakit Lidwina Abu Hanifah yang juga turut membantu di dapur umum.

Mien dan Zus rajin berkeliling mencari penjual beras untuk dibeli, namun karena keadaan perang, beras sangat sulit didapatkan, sehingga Adi Hatmodjo berinisiatif membelinya dari Jawa Tengah. Adi memang sosok yang cukup dikenal pada masa itu, karena juga kerap menggunakan truk-truk tambang masnya untuk digunakan para pejuang. Ia bahkan pernah mengirimkan emas ke Yogyakarta untuk membantu biaya perjuangan.

BACA JUGA:

Tak cuma Desy, ini 5 artis cantik asal Sukabumi

Rini dangdut yang centil dan 5 fakta unik incess semasa di Sukabumi, jelang dinikahi Reino

3. Kisah herois pejuang wanita tomboy asal Sukabumi

Ada pejuang wanita yang tenggelam dan menghilang, yaitu pemudi bernama Roos. Ia seorang wanita tomboy yang garang dan bertugas mengawal pengiriman makanan. Pada suatu waktu, ia bersama Mien Adi Hatmodjo tengah berkeliling membagikan makanan kepada para pejuang, namun nahas, patroli Belanda mengetahuinya dan memberondong Jeep yang ditumpanginya.

Akibat berondongan senjata tentara patroli Belanda, sopir Jeep yang membawa Mien dan Roos tertembak pada bagian pahanya. Tanpa pikir panjang, Roos melompat ke depan dan menggantikan posisi sopir. Pedal gas ia injak sekuatnya dan mengendari Jeep dengan gerakan zigzag untuk menghindari tembakan pasukan Belanda.

Namun, di satu titik, karena penjagaan sangat ketat, Mien Hatmodjo memutuskan untuk turun dan berlari menuju Stasiun KA Sukabumi, sementara Roos kembali melaju melintasi berondongan peluru pasukan Belanda. Stelah peristiwa itu, entah bagaimana nasib Roos setelahnya, tidak ada yang tahu.

4. Mien diinterogasi di penjara Paledang Bogor

Wanita pejuang Sukabumi lainnya adalah ibu Suganda (istri seorang Kepala Kantor Sosial) yang fasih berbahasa Perancis. Ia bertugas membantu kurir saat melintasi penjagaan tentara sekutu. Suatu saat, Mien dan Suganda bertugas mengantar enam pemuda untuk dilatih di Akademi Militer (Akmil) yang akan dibuka pada November 1945 di Jakarta.

Mereka menggunakan mobil tambang mas menuju Jakarta, melewati beberapa titik penjagaan sekutu, dan berhasil lolos. Namun, ketika memasuki Kota Bogor, mereka diadang pasukan NICA dan disuruh kembali. Saat kendaraan tengah memutar balik, para pemuda dan Suganda melompat ke truk sampah. Suganda duduk bersama sopir dan menyamar sebagai istri sang sopir. Tinggallah Mien sendirian dan dicegat penjagaan sekutu yang lain.

Penjagaan memang cukup ketat, sehingga Mien dibawa ke penjara Paledang untuk diinterogasi. Karena Mien menolak menjawab, akhirnya ia ditembak dengan peluru gabus yang menyakitkan, tidak mematikan. Karena gagal memperoleh informasi dari Mien, iapun dikeluarkan dan bisa melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk bertemu Mr. Amir Syarifuddin dan menteri lainnya.

Sejak itu, keduanya diberi petunjuk untuk membentuk korps pelajar yaitu TRIP dan membentuk korps wanita seperti Laswi yang kemudian dipimpin oleh putri dari Bupati Djajadiningrat bernama Hilfiah. Keenam pemuda yang dibawa dari Sukabumi diangkat sebagai kurir militer dan Mien dianugrahi pangkat letnan dua oleh Jendral Didi Kartasasmita.

BACA JUGA:

Profil dan koronologi lengkap kasus pembunuhan wanita cantik asal Sukabumi di Jakarta

Cinta terlarang wanita Ciemas Sukabumi berujung maut, ini 5 kronologi pengungkapan kasusnya

Catatan dari Paris: Menyingkap alasan pria Eropa jatuh cinta kepada penari Sari Oneng Sukabumi

5. The power of emak-emak zaman dulu

Nama lain yang turut berjuang adalah Lien (Karlinah) Wirahadikusumah, istri mantan Wakil Presiden RI Umar Wirahadikusumah, yang ikut membantu ayahnya yang berprofesi sebagai mekanik senjata di pabrik Braat, Rumah Lien sering dijadikan tempat berkumpul para pejuang, sehingga ia sering membantu informasi kepada para pejuang.

Saat Belanda melakukan agresi militer pada 1947, banyak istri pejuang di Sukabumi yang tertangkap akibat laporan NEVIS. Mien sendiri hampir tertangkap saat dilakukan penggrebekan oleh pasukan Belanda. Yang mengkhawatirkan, dirumahnya disembunyikan beberapa granat milik penjuang. Namun beruntung, berkat kemampuannya berbahasa Belanda, para tentara itu akhirnya kembali dengan tangan hampa.

Akibat situasi ini, istri para pejuang ditampung di Pos Palang Merah Indonesia (PMI) yang dipimpin Zus Hafni, istri Dr Abu Hanifah, di kamar perawatan Rumah Sakit Lidwina. Bahkan, sebagian ada yang ditampung di klinik bersalin milik dr. Winata. Sayangnya, suatu saat Zus ditangkap Belanda dan dikirim ke Jakarta, terjadi pembentukan negara boneka Pasundan di Sukabumi.

Saat pendudukan Belanda di Sukabumi tersebut, banyak ibu-ibu Sukabumi beramai-ramai berkirim surat menyatakan kesetiaan kepada Presiden Soekarno dan menegaskan dukungan untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

This is the power of emak-emak jaman dulu, ya Gengs.

Nah, Gengs, semoga tulisan ini bisa menginspirasi kalian dalam mengisi kemerdekaan saat ini dan di masa depan.

  • 111
    Shares
Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah

Irman Sufi Firmansyah lahir di Sukabumi, 21 juni 1977. Ia menamatkan S1 Hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember (2001(, dan S2 Manajemen Universitas Bhayangkara, Kakarta. Kini Irman bekerja sebagai Manajer HRD, Security, dan HSE di bidang oil n gas service. Irman juga menjadi Ketua Yayasan Kipahare., dan pengurus Soekaboemi Heritages.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *